Sabtu, 22 Oktober 2011

WAYANG SUKET

Wayang Suket

Karya-karya wayang suket yang dibuat M.Thalib Prasojo, ternyata tidak hanya berhenti sebagai karya seni rupa. Untuk kali pertama, karya seni rupa wayang suket (rumputan) itu pernah dipergelarkan dalam bentuk seni pertunjukan wayang. Ki Supriyono (34), ketua jurusan Pedalangan SMKN IX Surabaya bertindak menjadi dalang dalam pementasan di gedung SMKN IX (eks SMKI), Jalan Siwalan Kerto Surabaya, Kamis, 31 Mei 2007, pukul 19.00. Pentas wayang gaya Jawa Timuran ini diiringi 10 pengrawit, satu sinden, gamelan slendro lengkap, dengan lakon Wahyu Senopati.
Meski pertunjukan wayang suket selama ini sudah diklaim oleh Slamet Gundono, wayang karya Thalib sangat berbeda. Dia tidak sekadar memanfaatkan bahan-bahan rumput untuk sosok (yang menyerupai) wayang, namun betul-betul membuat wayang dari bahan rerumputan. Dengan melihat sosoknya saja, para penggemar wayang pasti tahu nama tokoh yang dimaksudkannya.
Selain itu, pertunjukan wayangnya, juga bukan asal pertunjukan biasa. Thalib dengan sengaja meminta sang dalang untuk memainkan karya wayangnya secara klasik. Artinya, betul-betul diperlakukan sebagaimana wayang kulit biasanya, bukan ”wayang-wayangan”. Lakonnya pun dipilih lakon serius. Inilah yang membedakan dengan lakon wayang Slamet Gundono.
Selama ini M. Thalib Prasojo membuat karya wayang suket sebagai salah satu bentuk ekspresi dalam karya seni rupanya. Untuk pementasan kali ini, sudah didahului dengan workshop pembuatan wayang suket pada siswa-siswa SMKN XI (eks SMSR). Hasil karya workshop ini kemudian ikut disertakan dalam pementasan wayang di SMKN IX. Sebagaimana diketahui, SMSR semula merupakan bagian atau jurusan seni rupa dari SMKI. Maka kolaborasi kedua sekolah ini untuk mengenang kebersatuan mereka, sekaligus menarik minat anak-anak muda terhadap studi kesenian, khususnya jurusan pedalangan yang selama ini sangat sepi peminat. Pergelaran selama 90 menit dengan penata gending Bambang SP ini menjadi bagian dari pentas rutin dua bulanan yang dilakukan di SMKN IX.
Dalang asli Nganjuk itu menuturkan, lakon Wahyu Senapati berkisah seputar peristiwa Gatutkaca yang diwisuda menjadi senopati di Ngamarto. Tapi Antarejo sebagai saudara tuanya tidak terima, karena merasa juga punya hak sebagai putra Ngamarto dan memiliki kesaktian yang sama. Ternyata, Sengkuni berada di baliknya karena menginginkan keluarga Pandawa terpecah.
Ketika menghasut itu, tubuh Antarejo disusupi Nini Permoni alias Dewi Durga, disamping dukungan pihak Kurawa. Gatutkaca pun berperang dengan Antareja, namun akhirnya dipisah oleh Kresno. Kresno akhirnya tahu, bahwa ini bukan kemauan Antarejo sendiri. Menurutnya, yang sanggup mengatasi hal ini hanya Semar. Kemudian Semar dipanggil, dan Nini Permoni dipaksa keluar oleh Semar. Nini dinasehati, jangan menggangu momongan (asuhan) Semar. Tapi Nini berkilah, memang sudah tugasnya menggoda manusia. Salah sendiri kalau ada yang tidak kuat. Beruntung Pandawa memiliki Semar sebagai bentengnya.
Menurut Supriyono, cerita carangan yang dipergelarkan kali ini mengandung misi pendidikan. Bahwa sesama saudara jangan saling bertengkar, atau dapat dikonotasikan dengan rebutan kursi. Gatutkaca udah dipilih oleh rakyat, jadi kalau Antarejo ingin berbakti pada negara, masih ada jalan lain, tidak harus menjadi Senopati.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes