Tampilkan postingan dengan label KESENIAN RUPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESENIAN RUPA. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Desember 2011
Tari Jangger
Kamis, 10 November 2011
Tari Topeng
Tari Topeng
Anda akan mendapatkan bahwa Tari Topeng mempunyai ketentuan–ketentuan tertentu yang disesuaikan dengan perwatakannya misalnya PANJI, yang diartikan seorang bayi yang belum mempunyai dosa (masih bersih), PAMINDO, yang artinya kedua, atau diartikan juga sebagai lanjutan. Dalam cerita, digambarkan pula sebagai kesatria atau dalam tari topeng digambarkan pula sebagai seorang anak, PATIH, yang menggambarkan kedewasaan, dan KLANA, yang menggambarkan orang yang telah tua atau telah terpengaruh oleh hawa nafsu.
Posted in: KESENIAN RUPASabtu, 22 Oktober 2011
Seni Rupa Modern
Seni Rupa Modern adalah suatu karya seni rupa yang merupakan hasil kreativitas untuk menciptakan karya yang baru atau dengan kata lain karya seni rupa pembaruan. Kreativitas dalam seni rupa di dalamnya terdapat estetika, karakter, inovasi, dan originalitas.
“Merapi” karya Raden Saleh
Peirode Perintis (1826-1880), perkembangannya diawali oleh pelukis Raden Saleh. Berkat pengalamannya belajar menggambar dan melukis di luar negeri seperti di Belanda, Jerman, Perancis, beliau dapat merintis kemunculan seni rupa Modern di Indonesia. Corak lukisannya beraliran Romantis dan Naturalis. Aliran Romantisnya menampilkan karya-karya yang berceritera dahsyat, penuh kegetiran seperti tentang perkelahian dengan binatang buas. Gaya Naturalisnya sangat jelas nampak dalam melukis potret.Peiode Indonesia Jelita, masa ini merupakan kelanjutan dari masa perintisan setelah pakum beberapa saat karena meninggalnya Raden Saleh. Kemudian munculah seniman Abdullah Surio Subroto dan diikuti oleh anak-anaknya, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah dan Trijoto Abdullah. Pelukis-pelukis Indonesia yang lain seperti Pirngadi, Henk Ngantung, Suyono, Suharyo, Wakidi, dll. Masa ini disebut dengan masa Indonesia Jelita karena pelukisnya melukiskan tentang kemolekan/keindahan obyek alam. Pelukis hanya mengandalkan teknik dan bahan saja. Karya Abdullah SR. (Pemandangan di sekitar Gn. Merapi, Pemandangan di Jawa Tengah, Dataran Tinggi di Bandung), karya Pirngadi (Pelabuhan Ratu), karyaBasuki Abdullah (Telanjang, Pemandangan, Gadis sederhana, Pantai Flores, Gadis Bali, dll.)
Periode Persagi, pada masa ini di Indonesia sedang terjadi pergolakan. Bangsa Indonesia berjuang untuk mendapatkan hak yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain, terutama hak untuk merdeka dari penjajahan asing. Pergolakan di segala bidang pun terjadi, seperti dalam bidang kesenian yang berusaha mencari ciri khas Indonesia. Pelopor masa ini yang dikenal memilki semangat tinggi adalah S. Sdjojono, ia tidak puas dengan kehidupan seni rupa Jelita yang serba indah, karena dianggap bertolak belakang dengan kejadian yang melanda bangsa Indonesia. Sebagai langkah perjuangannya maka S. Sudjojono dan Agus Jayasuminta bersama kawan-kawannya mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Persagi bertujuan untuk mengembangkan seni lukis di Indonesia dengan mencari corak Indonesia asli. Konsep persagi itu sendiri adalah semangat dan keberanian, bukan sekedar kecakapan melukis melainkan melukis dengan tumpahan jiwa. Karya-karya S. Sudjojono (Di depan kelambu terbuka, Cap Go Meh, Jongkatan, Bunga kamboja), karya Agus Jayasuminta (Barata Yudha, Arjuna wiwaha, Dalam Taman Nirwana), karya Otto Jaya (Penggodaan, Wanita impian).
Peiode Pendudukan Jepang, kegiatan melukis pada masa ini dilakukan dalam kelompok Keimin Bunka Shidoso. Tujuannya adalah untuk propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya. Kelompok ini didirikan oleh tentara Dai Nippon dan diawasi oleh seniman Indonesia, Agus Jayasuminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus, Henk Ngantung, dll. Untuk kelompok asli Indonesia berdiri kelompok PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat), tokoh-tokoh yang mendirikan kelompok ini adalah tokoh empat serangkai yaitu Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KH. Dewantara dan KH. Mas Mansyur. Khusus yang menangani bidang seni lukis adalah S. Sudjojono dan Affandi. Pelukis yang ikut bergabung dalam Putra diantaranya Hendra Gunawan, Sudarso, Barli, Wahdi, dll. Pada masa ini para seniman memiliki kesempatan untuk berpameran, seperti pameran karya dari Basuki Abdullah, Affandi, Nyoman Ngedon, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Otto Jaya, dll.
Periode Pasca Kemerdekaan, setelah Indonesia merdeka bermunculanlah kelompok-kelompok seniman lukis Indonesia, diantaranya: (1) Sanggar Masyarakat (1946) dipimpin Affandi, kemudian diganti nama menjadi SIM (Seniman Indonesia Muda) yang dipimpin oleh S. Sudjojono; (2) Pelukis Rakyat (1947), Affandi dan Hendra Gunawan keluar dari SIM dan mendirikan Pelukis Rakyat dipimpin oleh Affandi; (3) Perkumpulan Prabangkara (1948); (4) ASRI (Akademi Seni Rupa (1948), tokoh-tokoh pendirinya RJ. Katamsi, S.Sudjojono,Hendra Gunawan, Jayengasmoro, Kusnadi dan Sindusisworo; (5) Tahun 1950 di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarya, Mochtar Apin, Ahmad Sadali, Sujoko, Edi Karta Subarna; (6) Tahun 1955, berdiri Yin Hua oleh Lee Man Fong ( perkumoulan pelukis Indonesia keturunan Tionghoa); (7) Tahun 1958, berdiri Yayasan seni dan desain Indonesia oleh Gaos Harjasumantri dkk; (8) Tahun 1959, berdiri Organisasi Seniman Indonesia oleh Nashar dkk.
Periode Akademi (1950), Pengembangan seni rupa melalui pendidikan formal. Lembaga Pendidikan yang bernama ASRI yang berdiri tahun 1948 kemudiaan secara formal tahun 1950 Lembaga tersebut mulai membuat rumusan-rumusan untuk mencetak seniman-seniman dan calon guru gambar. Pada tahun 1959 di Bandung dibuka jurusan Seni Rupa ITB, kemudian dibuka jurusan seni rupa disemua IKIP diseluruh Indonesia.
Periode Seni Rupa Baru, pada sekitar tahun 1974 muncul kelompok baru dalam seni lukis. Kelompok ini menampilkan corak baru dalam seni lukis Indonesia yang membebaskan diri dari batasan-batasan seni rupa yang telah ada. Konsep kelompok ini adalah: (1) Tidak membedakan disiplin seni; (2) Menghilangkan sikap seseorang dalam mengkhususkan penciptaan seni; (3) Mendambakan kreatifitas baru; (4) Membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah mapan; (5) Bersifat eksperimental.
Posted in: KESENIAN RUPAKARYA SENI RUPA NUSANTARA TIGA DIMENSI

KARYA SENI RUPA NUSANTARA TIGA DIMENSI
Karya seni rupa tiga dimensi sering disebut Trimatra yang artinya suatu seni rupa yang be.ntuknya dimensi tiga. jadi karya seni ini mempunyai panjang ,lebar dan tinggi, artinya sebuah karya seni yang mempunyai volume dan cara penyajianya serta menikmatinya dari berbagai arah depan maupun belakang, samping kanan maupun samping kiri. Seni ini diciptakan pada sebuah ruangan. Beberapa contoh seni rupa tiga dimensi antara lain seni patung, dan candi dengan segala ragam hiasnya.berbagai ragam hias seni tiga dimensi :
1. ragam hias Kala yang terdapat pada pintu masuk bagian atas Candi Puntadewa di Jawa Tengah.
2. Sebuah ragam hias dari candi Kalasan merupakan gubahan dari daun-daun dan bunga. Digunakan untuk menghias bidang atas pintu candi yang berada di samping selatan. Dibuat dari bentuk tehnik ukir.
3. Beberapa Candi Nusantara yang menggunakan ragam hias Kala diantaranya : candi kalasan, candi borobudur, candi prambanan, candi plaoan, candi singosari Malang, Candi Kidal Malang, Candi sari Jatim, candi surawana kediri.
Posted in: KESENIAN RUPAWomen around the Lotus Pond
lukisan-karya-seni-termahal-di-dunia
Sebuah lukisan karya Andrien Jean Le Mayeur de Merpres berjudul Women around the Lotus Pond terjual dengan harga Rp 3,2 milyar pada sebuah lelang di Galeri Borobudur Jakarta. Para pengamat seni rupa menyebutnya sebagai hammer prices.
Padahal sesaat sebelum acara lelang dimulai, ketika lukisan itu dibawa ke ruang lelang beredar provokasi, bahwa lukisan karya Le Mayeur itu palsu. Dewan rumah lelang itu tidak ingin pelelangan itu kehilangan pamor lalu buru-buru mengeluarkan pernyataan, bahwa tidak ada satupun lukisan-lukisan yang dilelang di Borobudur palsu. Tergiur bahwa harga lukisan di berbagai galeri dan biro lelang yang setinggi langit, maka sejak bertahun-tahun yang silam, di Jakarta bermunculan biro lelang dan galeri lukisan.
Di tahun 1950, lahir sebuah studio seni lukis yang digagas oleh Tjio Tek Djien, pecinta dan sekali gus pialang lukisan. Gagasan itu timbul atas saran Presiden pertama RI Ir.Soekarno yang sangat terkenal amat mencintai lukisan baik lukisan karya pelukis-pelukis terkemuka mancanegara maupun karya pelukis Indonesia sendiri. Banyak pelukis Indonesia yang bekerja pada sanggar milik lelaki bermata sipit yang bernama Tjio Tek Djien itu dan tidak jarang di antara pelukis-pelukis itu dipengaruhi untuk memalsukan lukisan karya pelukis terkemuka di dunia.
Sejak saat itu muncul reproduksi lukisan karya pelukis terkenal jaman Hindia Belanda maupun Indonesia, seperti Le Mayuer, Auke Sonnega, Kees van Dongen, Romualdo Locatelli hingga GP Adolfs. Di kabarkan bahwa reproduksi lukisan ternama itu sebagian besar di distribusikan di Sanur Bali.
Pemalsuan lukisan semakin marak.
Di era tahun 2000 hingga saat ini pemalsuan lukisan semakin marak ketika di republik ini memasuki “era biro lelang”, apa lagi sejak tahun 2002, biro lelang seni rupa mendapatkan angin segar berupa peluang sangat luas yang amat luar biasa. Dan harga lukisanpun menjulang tinggi. Di tahun 1990-an Indonesia hanya mempunyai biro lelang Larasati dan Balindo sebagai mitra biro lelang Christie’s dan Sotheby’s yang melakukan lelang di Singapura dan Hongkong. Hingga kini bermunculan bermunculan biro lelang lukisan dan galeri ,seperti Geleri Darga di Sanur Bali, Borobudur, Galeri Nasional. Cempaka, Masterpiece dan Sidharta Artfordable, Treasure dan lain-lain. Lewat berbagai pameran dan pelelangan selalu terjual lukisan hingga mencapai tidak kurang dari Rp.80. milyar rupiah hanya untuk 15 kali pelelangan.
Terkonsentrasi di Jawa dan Bali.
Daerah-daerah lain tidak harus merasa iri, kalau hingga saat ini arena wacana dan kekaryaan seni rupa modern, terutama lukisan, masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Seiring dengan sifatnya yang khas dan cukup laten, bahwa seni rupa modern umumnya berlangsung di walayah urban, maka konsentrasi keberadaan perkembangan lukisan tumbuh di kota-kota besar , terutama di Jawa seperti Jakarta, Bandung , Yogyakarta dan Surabaya serta Bali. Jakarta sebagai kota metropolitan menjadi pusat informasi, sirkulasi dan peluang pasar seni rupa secara ekonomi. Tidak mengherankan, sebagian besar pelukis dan perupa Indonesia dari dekade ke dekade melakukan urbanisasi ke Jakarta maupun kota-kota lainnya di Jawa dan Bali.
Seperti diketahui, bahwa di republik ini kebangkitan seni rupa modern kita dengan diawali oleh era Raden Saleh dan pelukis Hindia Belanda pada abad ke 19. Disusul oleh era Bataviasch Kunstkring pada perempat abad 20, kemudian tercatat era Persagi atau Persatuan Ahli-ahli gambar Indonesia di tahun 1938 hingga 1942.
Disusul era jaman Jepang 1942-1945, kemudian era Indonesia Merdeka dan kesanggaran di tahun 1945-1955, diteruskan era “Politik sebagai Panglima Seni “di tahun 1955-1965. Era kebebasan kreatif tercatat di tahun 1960-1980-an. Terakhir dikenal era “ekonomi sebagai panglima” dan era “Wacana sebagai profil seni rupa Indonesia” yang diawali tahun 1980-an hingga kini.
Lukisan Le Mayeur terjual Rp10 milyar.
Sangat mengejutkan pada sebuah pameran dan lelang lukisan di Hongkong, sebuah lukisan karya Le Mayeur terjual dengan harga Rp.10 milyar. Dan siapa gerangan kolektor yang berani membeli sebuah lukisan dengan harga semahal itu?. Dia adalah orang Indonesia! Semntara itu pada pelelangan l,ain, lukisan karya Jean Michel Basquiat , seorang pelukis kenamaan dari Puerto Rico Haiti yang di Amerika dikenal sebagai “The Angry Young Black Man” terjual dengan harga lima puluh dolar Amerika dan pada kesempatan berikutnya harga itu melonjak hingga ke langit seharga 3 juta dolar.
Wajarlah bila untuk mengangkut 14 lukisan karya Basquiat dari Meksiko ke Bali pialang lukisan yang membawanya harus ekstra hati-hati. Tiga lukisan pelukis kenamaan ini masing-masing “Heaven” (1985), “Becouse It Hurts The Lungs” (1986) dan “Untitled” (1988) terjual di Bali hingga mencapai l0 milyaran rupiah. Diboyongnya lukisan karya pelukis kondang itu dalam rangka pameran dan lelang di Bali. Dan ternyata lukisan karya pelukis kelas dunia itu laku dengan harga berkisar 5 hingga l0 milyar rupiah.
Basquiat sebenarnya lahir di Puerto Rico Haiti dan dijuluki The Angry young black man, namun ia selalu bergadang di Brooklyn New York dan mencorat-coret dinding dengan kata-kata satire berinisial SAMO (Same Old Shit). Bassquiat bukan sembarang orang hitam, sebab darah Perancis mengalir dalam tubuhnya. Gayanya memang khas, seperti kaum aristokrat pinggiran. Foto-foto dirinya yang dalam posenya selalu urakan dan rambutnya dikucir selalu dipajang pada setiap pameran lukisannya.. Sayang sekali pelukis kondang ini mati muda, dalam usia 28 tahun (1960-1988).
JaisDargawijaya adalah pialang lukisan yang sangat berani memikul risiko tinggi memboyoang lukisan asli karya Basquiat. Ia adalah pemilik galeri di Bali dan Paris. Tokoh inipun sering ulang-alik Jakarta Paris atau London untuk urusan corat-coret di kanvas. Dia juga selalu auction di New York, London, Paris dan pernah memamerkan karya pelukis kelas dunia seperti Picasso dan Mattiese.
Kerja sama Perpusnas dan Rijksmuseum Amsterdam
Menyadari akan harga lukisan karya pelukis terkenal di dunia, Perpustakaan Nasioanal R.I di Jakarta telah menjalin kerja sama dengan Rijksmuseum Amsterdam dalam rangka melestarikan warisan budaya bangsa. Kerja sama ini ditandatangni pada tahun 1995. Sebagai museum terbesar di Belanda Rijksmuseum memiliki 40 lukisan karya Johannes Rach yang hidup di tahun 1720-1783.
Pada saat ini pecinta lukisan dapat melihat repoduki lukisan karya pelukis Rach.di Perpustakaan Nasional R.I. Saat ini di Perpustakaan Nasional RI tersimpan dengan baik reproduksi lukisan sebanyak 202 buah. Pihak Erasmus Huis di Jakarta sangat mendukung kesepakatan ini untuk pelestarian warisan budaya bangsa.
Pameran lukisan karya Racht sudah dipamerkan diberbagai negara seperti Jepang, Singapura, Afrika Selatan dan Inggris. Johannes Rach adalah pelukis terkenal berkebangsaan Belanda di masa kolonial.
Selain Rijksmuseum Amsterdam, pihak British Library juga telah menyumbangkan reproduksi koleksi lukisan lain maupun karya-karya seni rupa berupa arkeologi Indonesia, seperti candi, patung, keris dan sebagainya.
Disamping itu Perpustakaan Nasional RI juga memiliki peta yang dibuat di tahun 1669 hingga sekarang. Jenis koleksi peta yang tersedia meliputi topografi, geologi, kemampuanm tanah, pertambangan, pertanian dan sejarah. Media yang digunakan adalah berupa kain, kertas dan plasik.
Karya Sastra belum semahal lukisan
Kalau harga lukisan mencapai milyaran rupiah perbuah, bagaimana dengan karya seni lainnya. Memang tidak sehebat itu. Yang pasti karya sastra jauh di bawah harga sebuah lukisan Basquiat atau Le Mayeur. Novel-novel hasil karya pengarang peraih nobel sekalipun belum dihargai masyarakat setinggi itu.
Ernest Hamingway (1899-1961) adalah pengarang yang sangat terkenal dan pernah mendapatkan hadiah Pullitzer di tahun 1953 dan peraih anugerah novel untuk kesusastraan di tahun berikutnya, belum tentu bukunya berharga setinggi itu. Demikian juga dengan Toni Marrison, pengarang perempuan dari negeri Paman Sam ,peraih hadiah nobel kesustraan di tahun 1993.
Masih banyak lagi pengarang kelas dunia yang pernah mendapatkan hadiah Nobel ,seperti sastrawan berdarah China Gao Xingjian yang diusir dari negaranya lalu hijrah ke Paris yang akhirnya meraih anugerah Nobel di tahun 2000 dan sebelumnya sastrawan Rusia Alexsander Solzhenitsyn yang meraih nobel di tahun 1970, buku-buku mereka belum tentu berharga semahal itu.
Apalagi novel dan sastra di daerah Sumatera Utara saat ini, sungguh sangat lesu, dan hampir kehabisan nafas, sehingga keadaannya seperti gurem yang merayap dalam kain sutera berwarna merah, geliatnya tidak terlihat oleh kasat mata.
Sebuah lukisan karya Andrien Jean Le Mayeur de Merpres berjudul Women around the Lotus Pond terjual dengan harga Rp 3,2 milyar pada sebuah lelang di Galeri Borobudur Jakarta. Para pengamat seni rupa menyebutnya sebagai hammer prices.
Padahal sesaat sebelum acara lelang dimulai, ketika lukisan itu dibawa ke ruang lelang beredar provokasi, bahwa lukisan karya Le Mayeur itu palsu. Dewan rumah lelang itu tidak ingin pelelangan itu kehilangan pamor lalu buru-buru mengeluarkan pernyataan, bahwa tidak ada satupun lukisan-lukisan yang dilelang di Borobudur palsu. Tergiur bahwa harga lukisan di berbagai galeri dan biro lelang yang setinggi langit, maka sejak bertahun-tahun yang silam, di Jakarta bermunculan biro lelang dan galeri lukisan.
Di tahun 1950, lahir sebuah studio seni lukis yang digagas oleh Tjio Tek Djien, pecinta dan sekali gus pialang lukisan. Gagasan itu timbul atas saran Presiden pertama RI Ir.Soekarno yang sangat terkenal amat mencintai lukisan baik lukisan karya pelukis-pelukis terkemuka mancanegara maupun karya pelukis Indonesia sendiri. Banyak pelukis Indonesia yang bekerja pada sanggar milik lelaki bermata sipit yang bernama Tjio Tek Djien itu dan tidak jarang di antara pelukis-pelukis itu dipengaruhi untuk memalsukan lukisan karya pelukis terkemuka di dunia.
Sejak saat itu muncul reproduksi lukisan karya pelukis terkenal jaman Hindia Belanda maupun Indonesia, seperti Le Mayuer, Auke Sonnega, Kees van Dongen, Romualdo Locatelli hingga GP Adolfs. Di kabarkan bahwa reproduksi lukisan ternama itu sebagian besar di distribusikan di Sanur Bali.
Pemalsuan lukisan semakin marak.
Di era tahun 2000 hingga saat ini pemalsuan lukisan semakin marak ketika di republik ini memasuki “era biro lelang”, apa lagi sejak tahun 2002, biro lelang seni rupa mendapatkan angin segar berupa peluang sangat luas yang amat luar biasa. Dan harga lukisanpun menjulang tinggi. Di tahun 1990-an Indonesia hanya mempunyai biro lelang Larasati dan Balindo sebagai mitra biro lelang Christie’s dan Sotheby’s yang melakukan lelang di Singapura dan Hongkong. Hingga kini bermunculan bermunculan biro lelang lukisan dan galeri ,seperti Geleri Darga di Sanur Bali, Borobudur, Galeri Nasional. Cempaka, Masterpiece dan Sidharta Artfordable, Treasure dan lain-lain. Lewat berbagai pameran dan pelelangan selalu terjual lukisan hingga mencapai tidak kurang dari Rp.80. milyar rupiah hanya untuk 15 kali pelelangan.
Terkonsentrasi di Jawa dan Bali.
Daerah-daerah lain tidak harus merasa iri, kalau hingga saat ini arena wacana dan kekaryaan seni rupa modern, terutama lukisan, masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Seiring dengan sifatnya yang khas dan cukup laten, bahwa seni rupa modern umumnya berlangsung di walayah urban, maka konsentrasi keberadaan perkembangan lukisan tumbuh di kota-kota besar , terutama di Jawa seperti Jakarta, Bandung , Yogyakarta dan Surabaya serta Bali. Jakarta sebagai kota metropolitan menjadi pusat informasi, sirkulasi dan peluang pasar seni rupa secara ekonomi. Tidak mengherankan, sebagian besar pelukis dan perupa Indonesia dari dekade ke dekade melakukan urbanisasi ke Jakarta maupun kota-kota lainnya di Jawa dan Bali.
Seperti diketahui, bahwa di republik ini kebangkitan seni rupa modern kita dengan diawali oleh era Raden Saleh dan pelukis Hindia Belanda pada abad ke 19. Disusul oleh era Bataviasch Kunstkring pada perempat abad 20, kemudian tercatat era Persagi atau Persatuan Ahli-ahli gambar Indonesia di tahun 1938 hingga 1942.
Disusul era jaman Jepang 1942-1945, kemudian era Indonesia Merdeka dan kesanggaran di tahun 1945-1955, diteruskan era “Politik sebagai Panglima Seni “di tahun 1955-1965. Era kebebasan kreatif tercatat di tahun 1960-1980-an. Terakhir dikenal era “ekonomi sebagai panglima” dan era “Wacana sebagai profil seni rupa Indonesia” yang diawali tahun 1980-an hingga kini.
Lukisan Le Mayeur terjual Rp10 milyar.
Sangat mengejutkan pada sebuah pameran dan lelang lukisan di Hongkong, sebuah lukisan karya Le Mayeur terjual dengan harga Rp.10 milyar. Dan siapa gerangan kolektor yang berani membeli sebuah lukisan dengan harga semahal itu?. Dia adalah orang Indonesia! Semntara itu pada pelelangan l,ain, lukisan karya Jean Michel Basquiat , seorang pelukis kenamaan dari Puerto Rico Haiti yang di Amerika dikenal sebagai “The Angry Young Black Man” terjual dengan harga lima puluh dolar Amerika dan pada kesempatan berikutnya harga itu melonjak hingga ke langit seharga 3 juta dolar.
Wajarlah bila untuk mengangkut 14 lukisan karya Basquiat dari Meksiko ke Bali pialang lukisan yang membawanya harus ekstra hati-hati. Tiga lukisan pelukis kenamaan ini masing-masing “Heaven” (1985), “Becouse It Hurts The Lungs” (1986) dan “Untitled” (1988) terjual di Bali hingga mencapai l0 milyaran rupiah. Diboyongnya lukisan karya pelukis kondang itu dalam rangka pameran dan lelang di Bali. Dan ternyata lukisan karya pelukis kelas dunia itu laku dengan harga berkisar 5 hingga l0 milyar rupiah.
Basquiat sebenarnya lahir di Puerto Rico Haiti dan dijuluki The Angry young black man, namun ia selalu bergadang di Brooklyn New York dan mencorat-coret dinding dengan kata-kata satire berinisial SAMO (Same Old Shit). Bassquiat bukan sembarang orang hitam, sebab darah Perancis mengalir dalam tubuhnya. Gayanya memang khas, seperti kaum aristokrat pinggiran. Foto-foto dirinya yang dalam posenya selalu urakan dan rambutnya dikucir selalu dipajang pada setiap pameran lukisannya.. Sayang sekali pelukis kondang ini mati muda, dalam usia 28 tahun (1960-1988).
JaisDargawijaya adalah pialang lukisan yang sangat berani memikul risiko tinggi memboyoang lukisan asli karya Basquiat. Ia adalah pemilik galeri di Bali dan Paris. Tokoh inipun sering ulang-alik Jakarta Paris atau London untuk urusan corat-coret di kanvas. Dia juga selalu auction di New York, London, Paris dan pernah memamerkan karya pelukis kelas dunia seperti Picasso dan Mattiese.
Kerja sama Perpusnas dan Rijksmuseum Amsterdam
Menyadari akan harga lukisan karya pelukis terkenal di dunia, Perpustakaan Nasioanal R.I di Jakarta telah menjalin kerja sama dengan Rijksmuseum Amsterdam dalam rangka melestarikan warisan budaya bangsa. Kerja sama ini ditandatangni pada tahun 1995. Sebagai museum terbesar di Belanda Rijksmuseum memiliki 40 lukisan karya Johannes Rach yang hidup di tahun 1720-1783.
Pada saat ini pecinta lukisan dapat melihat repoduki lukisan karya pelukis Rach.di Perpustakaan Nasional R.I. Saat ini di Perpustakaan Nasional RI tersimpan dengan baik reproduksi lukisan sebanyak 202 buah. Pihak Erasmus Huis di Jakarta sangat mendukung kesepakatan ini untuk pelestarian warisan budaya bangsa.
Pameran lukisan karya Racht sudah dipamerkan diberbagai negara seperti Jepang, Singapura, Afrika Selatan dan Inggris. Johannes Rach adalah pelukis terkenal berkebangsaan Belanda di masa kolonial.
Selain Rijksmuseum Amsterdam, pihak British Library juga telah menyumbangkan reproduksi koleksi lukisan lain maupun karya-karya seni rupa berupa arkeologi Indonesia, seperti candi, patung, keris dan sebagainya.
Disamping itu Perpustakaan Nasional RI juga memiliki peta yang dibuat di tahun 1669 hingga sekarang. Jenis koleksi peta yang tersedia meliputi topografi, geologi, kemampuanm tanah, pertambangan, pertanian dan sejarah. Media yang digunakan adalah berupa kain, kertas dan plasik.
Karya Sastra belum semahal lukisan
Kalau harga lukisan mencapai milyaran rupiah perbuah, bagaimana dengan karya seni lainnya. Memang tidak sehebat itu. Yang pasti karya sastra jauh di bawah harga sebuah lukisan Basquiat atau Le Mayeur. Novel-novel hasil karya pengarang peraih nobel sekalipun belum dihargai masyarakat setinggi itu.
Ernest Hamingway (1899-1961) adalah pengarang yang sangat terkenal dan pernah mendapatkan hadiah Pullitzer di tahun 1953 dan peraih anugerah novel untuk kesusastraan di tahun berikutnya, belum tentu bukunya berharga setinggi itu. Demikian juga dengan Toni Marrison, pengarang perempuan dari negeri Paman Sam ,peraih hadiah nobel kesustraan di tahun 1993.
Masih banyak lagi pengarang kelas dunia yang pernah mendapatkan hadiah Nobel ,seperti sastrawan berdarah China Gao Xingjian yang diusir dari negaranya lalu hijrah ke Paris yang akhirnya meraih anugerah Nobel di tahun 2000 dan sebelumnya sastrawan Rusia Alexsander Solzhenitsyn yang meraih nobel di tahun 1970, buku-buku mereka belum tentu berharga semahal itu.
Apalagi novel dan sastra di daerah Sumatera Utara saat ini, sungguh sangat lesu, dan hampir kehabisan nafas, sehingga keadaannya seperti gurem yang merayap dalam kain sutera berwarna merah, geliatnya tidak terlihat oleh kasat mata.
Posted in: KESENIAN RUPAWAYANG SUKET
Wayang Suket
Karya-karya wayang suket yang dibuat M.Thalib Prasojo, ternyata tidak hanya berhenti sebagai karya seni rupa. Untuk kali pertama, karya seni rupa wayang suket (rumputan) itu pernah dipergelarkan dalam bentuk seni pertunjukan wayang. Ki Supriyono (34), ketua jurusan Pedalangan SMKN IX Surabaya bertindak menjadi dalang dalam pementasan di gedung SMKN IX (eks SMKI), Jalan Siwalan Kerto Surabaya, Kamis, 31 Mei 2007, pukul 19.00. Pentas wayang gaya Jawa Timuran ini diiringi 10 pengrawit, satu sinden, gamelan slendro lengkap, dengan lakon Wahyu Senopati.Meski pertunjukan wayang suket selama ini sudah diklaim oleh Slamet Gundono, wayang karya Thalib sangat berbeda. Dia tidak sekadar memanfaatkan bahan-bahan rumput untuk sosok (yang menyerupai) wayang, namun betul-betul membuat wayang dari bahan rerumputan. Dengan melihat sosoknya saja, para penggemar wayang pasti tahu nama tokoh yang dimaksudkannya.
Selain itu, pertunjukan wayangnya, juga bukan asal pertunjukan biasa. Thalib dengan sengaja meminta sang dalang untuk memainkan karya wayangnya secara klasik. Artinya, betul-betul diperlakukan sebagaimana wayang kulit biasanya, bukan ”wayang-wayangan”. Lakonnya pun dipilih lakon serius. Inilah yang membedakan dengan lakon wayang Slamet Gundono.
Selama ini M. Thalib Prasojo membuat karya wayang suket sebagai salah satu bentuk ekspresi dalam karya seni rupanya. Untuk pementasan kali ini, sudah didahului dengan workshop pembuatan wayang suket pada siswa-siswa SMKN XI (eks SMSR). Hasil karya workshop ini kemudian ikut disertakan dalam pementasan wayang di SMKN IX. Sebagaimana diketahui, SMSR semula merupakan bagian atau jurusan seni rupa dari SMKI. Maka kolaborasi kedua sekolah ini untuk mengenang kebersatuan mereka, sekaligus menarik minat anak-anak muda terhadap studi kesenian, khususnya jurusan pedalangan yang selama ini sangat sepi peminat. Pergelaran selama 90 menit dengan penata gending Bambang SP ini menjadi bagian dari pentas rutin dua bulanan yang dilakukan di SMKN IX.
Dalang asli Nganjuk itu menuturkan, lakon Wahyu Senapati berkisah seputar peristiwa Gatutkaca yang diwisuda menjadi senopati di Ngamarto. Tapi Antarejo sebagai saudara tuanya tidak terima, karena merasa juga punya hak sebagai putra Ngamarto dan memiliki kesaktian yang sama. Ternyata, Sengkuni berada di baliknya karena menginginkan keluarga Pandawa terpecah.
Ketika menghasut itu, tubuh Antarejo disusupi Nini Permoni alias Dewi Durga, disamping dukungan pihak Kurawa. Gatutkaca pun berperang dengan Antareja, namun akhirnya dipisah oleh Kresno. Kresno akhirnya tahu, bahwa ini bukan kemauan Antarejo sendiri. Menurutnya, yang sanggup mengatasi hal ini hanya Semar. Kemudian Semar dipanggil, dan Nini Permoni dipaksa keluar oleh Semar. Nini dinasehati, jangan menggangu momongan (asuhan) Semar. Tapi Nini berkilah, memang sudah tugasnya menggoda manusia. Salah sendiri kalau ada yang tidak kuat. Beruntung Pandawa memiliki Semar sebagai bentengnya.
Menurut Supriyono, cerita carangan yang dipergelarkan kali ini mengandung misi pendidikan. Bahwa sesama saudara jangan saling bertengkar, atau dapat dikonotasikan dengan rebutan kursi. Gatutkaca udah dipilih oleh rakyat, jadi kalau Antarejo ingin berbakti pada negara, masih ada jalan lain, tidak harus menjadi Senopati.
Posted in: KESENIAN RUPAJumat, 21 Oktober 2011
PATUNG PIETA
Patung Pieta
ibuat sebagai monumen di makam kardinal Perancis Jean de Billheres, tetapi kemudian dipindahkan ke lokasinya yang sekarang, kapel pertama di kanan basilika pada abad ke-18. Karya ini menggambarkan tubuh Yesus di pelukan ibunya Maria setelah penyaliban Yesus.
[sunting]Teknis karya
Patung ini memiliki komposisi piramida, suatu hal yang jarang untuk masa renaisans. Untuk mengimbangi tubuh Yesus yang besar, tubuh Maria ditunjang lebih oleh volume pakaiannya, bukan tubuhnya sendiri.
Lipatan kain diperlihatkan sangat detail dan halus.
[sunting]Interpretasi
Michaelangelo sebagaimana dituturkan kepada penulis biografinya, Ascanio Condivi, berkata bahwa :Tidakkah kamu tahu perempuan yang suci dari sentuhan lelaki akan jauh lebih muda daripada mereka yang tidak? Bagian mana lagi dari Perawan Suci, yang sama sekali tidak pernah mengalami gairah, yang bisa membuat umurnya menjadi tua?
Posted in: KESENIAN RUPAMinggu, 16 Oktober 2011
SENI LUKIS
| Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan. Sejarah umum seni lukis [sunting] Zaman prasejarah Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik. Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar). Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya. Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni. [sunting] Seni lukis zaman klasik Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan: * Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama) * Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii), Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal. [sunting] Seni lukis zaman pertengahan Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas. Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan "bagus". Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang "benar" dari benda). [sunting] Seni lukis zaman Renaissance Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ilmuwan dan budayawan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang. Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa. Seni rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki. Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur. Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah: * Tomassi * Donatello * Leonardo da Vinci * Michaelangelo * Raphael Art nouveau Revolusi Industri di Inggris telah menyebabkan mekanisasi di dalam banyak hal. Barang-barang dibuat dengan sistem produksi massal dengan ketelitian tinggi. Sebagai dampaknya, keahlian tangan seorang seniman tidak lagi begitu dihargai karena telah digantikan kehalusan buatan mesin. Sebagai jawabannya, seniman beralih ke bentuk-bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh produksi massal (atau jika bisa, akan biaya pembuatannya menjadi sangat mahal). Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya diarahkan kepada kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-garis tumbuhan di alam. Sejarah seni lukis di Indonesia Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi. Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi. Aliran2 seni lukis : Surrealisme Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya. Kubisme Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso. Romantisme Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan. Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh. Plural painting Adalah sebuah proses beraktivitas seni melalui semacam meditasi atau pengembaraan intuisi untuk menangkap dan menterjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke dalam bahasa visual. Bahasa visual yang digunakan berpijak pada konsep PLURAL PAINTING. Artinya, untuk menampilkan idiom-idiom agar relatif bisa mencapai ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi mempergunakan idiom-idiom yang bersifat: multi-etnis, multi-teknik, atau multi-style. Seni lukis daun Adalah aliran seni lukis kontemporer, dimana lukisan tersebut menggunakan daun tumbuh-tumbuhan, yang diberi warna atau tanpa pewarna. Seni lukis ini memanfaatkan sampah daun tumbuh-tumbuhan, dimana daun memiliki warna khas dan tidak busuk jika ditangani dengan benar. senidaun.wordpress.com Aliran lain * Ekspresionisme * Impresionisme * Fauvisme * Neo-Impresionisme * Realisme * Naturalisme * De Stijl Abstraksi Adalah usaha untuk mengesampingkan unsur bentuk dari lukisan. Teknik abstraksi yang berkembang pesat seiring merebaknya seni kontemporer saat ini berarti tindakan menghindari peniruan objek secara mentah. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya. Pelukis terkenal Indonesia * Affandi * Agus Djaya * Barli Sasmitawinata * Basuki Abdullah * Djoko Pekik * Dullah * Ferry Gabriel * Hendra Gunawan * Herry Dim * Jeihan * Kartika Affandi * Lee Man Fong * Mario Blanco * Otto Djaya * Popo Iskandar * Raden Saleh * S. Sudjojono * Srihadi * Sri Warso Wahono * Trubus * Atim Pekok * E. Darpo.S | |
Posted in: KESENIAN RUPA



04.14
desi.key




