Tampilkan postingan dengan label KESENIAN TARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESENIAN TARI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2011

Tari Yapong, DKI Jakarta.

  • untuk menjaga badan tetap langsing ada 8 tips nieh dari rahasia wanita - wanita jepang,silahkan download disini

Tari Yapong, DKI Jakarta.

oleh Nusantara Menari pada 22 Oktober 2010 jam 2:58
Yapong



Satu jenis tarian tradisional yang diciptakan untuk pertunjukan. Yapong bukan tari pergaulan seperti Jaipongan, yang berasal dari Jawa Barat, namun kemudian dalam perkembangannya kadangkala berfungsi sebagai tari pergaulan untuk mengisi acara menari sesuai permintaan karena tarian ini penuh dengan variasi.

Yapong mula-mula diorbitkan dalam rangka mempersiapkan acara peringatan HUT Kota Jakarta ke-450 pada tahun 1977. Pada saat itu, Dinas Kebudayaan DKI menyiapkan sebuah pergelaran tari massal yang spektakuler dengan mempergelarkan cerita . perjuangan Pangeran Jayakarta. Pergelaran berbentuk sendratari ini dipercayakan penggarapannya kepada seniman Bagong Kussudiarjo. Untuk mempersiapkan pergelaran itu, Bagong mengadakan penelitian selama beberapa bulan mengenai kehidupan masyarakat Betawi melalui perpustakaan, film, slide maupun langsung pada masyarakat Betawi. Akhirnya pergelaran tari ini berhasil dipentaskan pada tanggal 20 dan 21 Juni 1977 di Balai Sidang Senayan. Pementasannya didukung 300 orang artis dan musikus.

Tari Yapong merupakan suatu tari gembira dengan gerakan yang dinamis dan erotis. Dalam adegan tersebut dipertunjukkan suasana gembira menyambut kemenangan Pangeran Jayakarta. Adegan ini dinamai Yapong dan tidak mengandung arti apapun. Namun istilah Yapong ini lahir dari bunyi lagunya ya, ya, ya, ya, yang dinyanyikan artis pengiringnya serta suara musik yang berkesan pong, pong, pong, sehingga lahirlah "ya-pong" dan berkembang menjadi Yapong.

Pusat Latihan Tari (PLT) Bagong Kussudiarjo dan Dinas Kebudayaan DKl Jakarta seusai pementasan menggubah tari Yapong dari bentuk sendratari dan mengembangkannya sebagai tarian lepas. Adapun corak pakaian yang dikenakan para penarinya, merupakan pengembangan pakaian tari Kembang Topeng Betawi. Tampak jelas bentuk serta ragam hias tutup kepala serta selempang dadanya, yang disebut toka-toka.



Tari Yapong diwarnai oleh tari rakyat Betawi, kemudian diolah dengan unsur-unsur tari pop, antara lain unsur tari daerah Sumatera. Karena kesenian Betawi dipengaruhi oleh unsur kesenian Tionghoa, maka dalam tari Yapong juga terdapat unsur kesenian Tionghoa, misalnya dalam kain yang dipakai oleh para penari terdapat motif-motif naga dengan warna merah menyala. Alat musik yang digunakan saat tarian ini dipergelarkan adalah campuran antara Betawi, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Setelah menjadi tarian lepas, dalam tarian tersebut. DKl Jakarta memanfaatkan instrumen Rebana Biang, Rebana Hadroh, dan Rebana Ketimpring. Dengan demikian tari Yapong merupakan garapan kreasi baru yang bertolak dari unsur-unsur gerak tradisional Betawi.

Sabtu, 03 Desember 2011

Tari Serimpi

      • mau mendapatkan kulit yang mulus dan putih,ini ada tips untuk kecantikan kulit,silahkan download disini

      Tari Serimpi

       

      Tarian Serimpi merupakan tarian bernuansa mistik yang berasal dari Yogyakarta. Tarian ini diiringi oleh gamelan Jawa. Tarian ini dimainkan oleh dua orang penari wanita. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai, merupakan ciri khas dari tarian Serimpi. Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tarian ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.

      Jumat, 02 Desember 2011

      Tari Belian Bawo


       Tari Belian Bawo
      Belian
      Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

      Tari Hudoq




      Tari Hudoq adalah bagian ritual suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, yang biasa dilakukan setiap selesai manugal atau menanam padi, pada bulan September – Oktober. Semua gerakannya, konon dipercaya turun dari kahyangan. Berdasarkan kepercayaan suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, Tari Hudoq ini digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka yang berada di alam nirwana. Mereka meyakini di saat musim tanam tiba roh-roh nenek moyang akan selalu berada di sekeliling mereka untuk membimbing dan mengawasi anak cucunya. Leluhur mereka ini berasal dari Asung Luhung atau Ibu Besar yang diturunkan dari langit di kawasan hulu Sungai Mahakam Apo Kayan. Asung Luhung memiliki kemampuan setingkat dewa yang bisa memanggil roh baik maupun roh jahat. Oleh Asung Luhung, roh-roh yang dijuluki Jeliwan Tok Hudoq itu ditugaskan untuk menemui manusia. Namun karena wujudnya yang menyeramkan mereka diperintahkan untuk mengenakan baju samaran manusia setengah burung. Para Hudoq itu datang membawa kabar kebaikan. Mereka berdialog dengan manusia sambil memberikan berbagai macam benih dan tanaman obat-obatan sesuai pesan yang diberikan oleh Asung Luhung. Dari kisah itulah, nama Hudoq melekat di masyarakat Dayak Bahau dan Modang. Tarian ini dilakukan erat hubungannya dengan upacara keagamaan, dengan maksud untuk memperoleh kekuatan mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak. Para penari Hudoq ini biasanya berjumlah 13 orang yang melambangkan 13 dewa pelindung dewa Hunyang Tenangan, dewa yang memelihara tanaman padi. Di sela-sela kerimbunan semak belukar dan pepohonan mereka mulai mengenakan kostum yang terbuat dari daun pisang hingga menutupi mata kaki dan topeng kayu yang menyerupai binatang buas. Daun pisang adalah lambang kesejukan dan kesejahteraan. Sementara itu, warna pada Topeng Hudoq, biasanya didominasi oleh warna merah dan kuning, yang dipercaya sebagai warna kesukaan para dewa. Topeng warna merah ini merupakan gambaran perwujudan dewa Hunyang Tenangan. Sebelum tarian Hudoq dimulai, terlebih dahulu digelar ritual Napoq. Napoq adalah prosesi sakral yang wajib dilakukan setiap kali hendak menyelenggarakan Hudoq. Ritual ini dipimpin oleh seorang Dayung yakni orang yang memiliki kemampuan supranatural untuk berkomunikasi langsung dengan para Hudoq. Dengan didampingi dua asistennya, Dayung berkeliling kampung sambil membunyikan mebang atau gong kecil. Yang berfungsi sebagai alat komunikasi penyapaan kepada para roh-roh penjaga desa, bahwa Napoq sedang dilakukan. Selanjutnya, Dayung akan memanggil dan meminta kepada penguasa alam semesta yang memiliki empat sapaan yakni Tasao, Tuhan Pencipta; Tanyie', Tuhan Penjaga; Tawe'a, Tuhan Penuntun dan Tagean, Tuhan Yang Berkuasa; agar penyelenggaraan hudoq dapat berjalan aman dan lancar. Kemudian, para Hudoq dijamu makan siang oleh sang Dayung, dengan cara menyuapi para penari yang telah dirasuki titisan dewa yang mengenakan topeng Hudoq. Setelah makan siang, Dayung pun melakukan komunikasi dengan para Hudoq, yang disebut dengan Tengaran Hudoq. Komunikasi ini, menggunakan bahasa Dayak yang santun dan halus, yang hanya bisa diterjemahkan oleh sang Dayung. Dari komunikasi ini, biasanya diketahui kelanjutan hasil bercocok tanam, apakah panennya berhasil atau tidak. Dayung pun meminta, agar para Hudoq melindungi tanaman mereka dari serangan hama. Kemudian, ritual dilanjutkan dengan kegiatan ugaaitan atau menarik nyawa padi. Dalam ritual ini, para Hudoq berbaris sejajar, yang urutannya disesuaikan dengan kelas sosial para dewa. Para dewa dengan kelas sosial tertinggi berada di barisan terdepan. Sambil membaca mantera, para Hudog menarik nyawa padi sebanyak tujuh kali. Tari Hudoq biasanya digelar di tengah lapangan atau sawah yang akan ditanami. Dengan ritme cukup tinggi, para penari Hudoq melakukan gerakan Nyidok atau Nyebit yaitu gerakan maju sambil menghentak kaki. Disusul dengan gerakan Ngedok atau Nyigung yaitu menghentak¬kan kaki dengan tumit diiringi gerakan tangan yang mengibas-ngibas layaknya gerakan sayap seekor burung yang sedang terbang. Gerakan ini bermakna untuk mengusir hama penyakit agar tidak menyerang tanaman padi. Secara umum, gerakan tarian ini mengandung makna memutar ke kiri untuk membuang sial dan memutar ke kanan untuk mengambil kebaikan.

      Sumber Asli : http://dunialain-laindunia.blogspot.com/2009/04/tari-hudoq-dari-kalimantan-timur.html
      Copyright dunialain-laindunia.blogspot.com | COPY-PASTE BOLEH ASALKAN MENCANTUMKAN LINK SUMBER ASLINYA ~ COPY PASTE NO, SHARING YES

      Tari Kancet Ledo / Tari Gong



        Tari Kancet Ledo / Tari Gong
         
        Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
        Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

        Tari Kancet Papatai / Tari Perang

          Tari Kancet Papatai / Tari Perang

          Tari PerangTarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan perlatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

          Seni Tari Kutai

          Seni Tari Kutai


          Seni tari suku Kutai dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni Seni Tari Rakyat dan Seni Tari Klasik.

          Seni Tari Rakyat 
          Merupakan kreasi artistik yang timbul ditengah-tengah masyarakat umum. Gerakan tarian rakyat ini menggabungkan unsur-unsur tarian yang ada pada tarian suku yang mendiami daerah pantai.
          Yang termasuk dalam Seni Tari Rakyat adalah:

          1. Tari Jepen
          Jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam. Kesenian ini sangat populer di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun di daerah pantai.

          Tarian pergaulan ini biasanya ditarikan berpasang-pasangan, tetapi dapat pula ditarikan secara tunggal. Tari Jepen ini diiringi oleh sebuah nyanyian dan irama musik khas Kutai yang disebut dengan Tingkilan. Alat musiknya terdiri dari gambus (sejenis gitar berdawai 6) dan ketipung (semacam kendang kecil).

          Karena populernya kesenian ini, hampir di setiap kecamatan terdapat grup-grup Jepen sekaligus Tingkilan yang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri, sehingga tari ini berkembang pesat dengan munculnya kreasi-kreasi baru seperti Tari Jepen Tungku, Tari Jepen Gelombang, Tari Jepen 29, Tari Jepen Sidabil dan Tari Jepen Tali.

          Seni Tari Klasik 
          Merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan Kraton Kutai Kartanegara pada masa lampau.
          Yang termasuk dalam Seni Tari Klasik Kutai adalah:

          1. Tari Persembahan
          Dahulu tarian ini adalah tarian wanita kraton Kutai Kartanegara, namun akhirnya tarian ini boleh ditarikan siapa saja. Tarian yang diiringi musik gamelan ini khusus dipersembahkan kepada tamu-tamu yang datang berkunjung ke Kutai dalam suatu upacara resmi. Penari tidak terbatas jumlahnya, makin banyak penarinya dianggap bagus.


          Tari Ganjur
          2. Tari Ganjur
          Tari GanjurTari Ganjur merupakan tarian pria istana yang ditarikan secara berpasangan dengan menggunakan alat yang bernama Ganjur (gada yang terbuat dari kain dan memiliki tangkai untuk memegang). Tarian ini diiringi oleh musik gamelan dan ditarikan pada upacara penobatan raja, pesta perkawinan, penyambutan tamu kerajaan, kelahiran dan khitanan keluarga kerajaan. Tarian ini banyak mendapat pengaruh dari unsur-unsur gerak tari Jawa (gaya Yogya dan Solo).

          3. Tari Kanjar
          Tarian ini tidak jauh berbeda dengan Tari Ganjur, hanya saja tarian ini ditarikan oleh pria dan wanita dan gerakannya sedikit lebih lincah. Komposisi tariannya agak lebih bebas dan tidak terlalu ketat dengan suatu pola, sehingga tarian ini dapat disamakan seperti tari pergaulan. Tari Kanjar dalam penyajiannya biasanya didahului oleh Tari Persembahan, karena tarian ini juga untuk menghormati tamu dan termasuk sebagai tari pergaulan.

          4. Tari Topeng Kutai
          Tari ini asal mulanya memiliki hubungan dengan seni tari dalam Kerajaan Singosari dan Kediri, namun gerak tari dan irama gamelan yang mengiringinya sedikit berbeda dengan yang terdapat di Kerajaan Singosari dan Kediri. Sedangkan cerita yang dibawakan dalam tarian ini tidak begitu banyak perbedaannya, demikian pula dengan kostum penarinya.
          Tari Topeng Kutai terbagi dalam beberapa jenis sebagai berikut:
          01. Penembe
          02. Kemindhu
          03. Patih
          04. Temenggung
          05. Kelana
          06. Wirun
          07. Gunung Sari
          08. Panji
          09. Rangga
          10. Togoq
          11. Bota
          12. Tembam


          Tari Dewa Memanah
          Tari Topeng Kutai hanya disajikan untuk kalangan kraton saja, sebagai hiburan keluarga dengan penari-penari tertentu. Tarian ini juga biasanya dipersembahkan pada acara penobatan raja, perkawinan, kelahiran dan penyambutan tamu kraton.

          5. Tari Dewa Memanah
          Tari Dewa MemanahTarian ini dilakukan oleh kepala Ponggawa dengan mempergunakan sebuah busur dan anak panah yang berujung lima. Ponggawa mengelilingi tempat upacara diadakan sambil mengayunkan panah dan busurnya keatas dan kebawah, disertai pula dengan bememang (membaca mantra) yang isinya meminta pada dewa agar dewa-dewa mengusir roh-roh jahat, dan meminta ketentraman, kesuburan, kesejahteraan untuk rakyat.

          Dambus Bangka

          Dambus Bangka

          Selain terkenal dengan kulinernya, Bangka juga terkenal akan budayanya. Apalagi di bidang musik, Musik bangka tradisional sangat kental sekali dengan budaya melayu nya. Salah satu alat musik kebanggaan daerah saya ini adalah Dambus. Dambus adalah semacam alat seperti gitar tapi memiliki karakteristik dan bunyi yang berbeda dengan gitar masa kini. Dambus biasanya dipakai untuk mengiringi acara2 adat, tari-tarian , atau acara lainnya. Dambus sebenarnya juga merupakan alat musik daerah2 melayu dan timur tengah menurut sejarah, namun dalam perkembangan nya ada yang membedakan dambus bangka dengan yang lainnya.

          Pertama adalah bentuk kepala dambusnya berbentuk rusa yang merupakan binatang maskot Bangka. Kemudian senar nya ada 6, masing2 ad 3 pasang, 3 di atas dan 3 di bawah kalo tidak salah. Bentuknya kira2 adalah seperti ini :



          Dulu sewaktu pelajaran kesenian di daerah saya, kami sering diajarkan tentang bermain dambus, rebana, gendang dll. Setelah dimainkan rasanya enak sekali terdengar, dan sangat 'Melayu' sekali

          Berikut video yang mempermainkan lagu dengan dambus
          <

          Tari Gending Sriwijaya & Tari Tanggai

          Tari Gending Sriwijaya & Tari Tanggai

          tari-tanggai-3
          Gending Sriwijaya merupakan tari spesifik masyarakat Sumatera Selatan untuk menyambut tamu istimewa yang bekunjung ke daerah ini, seperti kepala negara, kepala-kepala pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang setara itu. Tari tradisional ini berasal dari masa kerajaan Sriwijaya. Tarian yang khas ini mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu. Tarian digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai.
          Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder.
          Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal terkadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya dilakukan oleh putri saja. Sultan atau bangsawan.
          tari-tanggai-5
          Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya. Tari Gending Sriwijaya, termasuk lagu pengiringnya, diciptakan tahun 1944 untuk mengingatkan para pemuda bahwa para nenek moyang adalah bangsa dan besar yang menghormati persaudaraan dan persahabatan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan Sang pencipta.
          Masyarakat Palembang memiliki seni tari sendiri, baik bergaya modern hasil kreasi seniman-seniwatinya, maupun tari-tarian klasik.Diantaranya, tari tepak atau tari tanggai yang biasa digelarkan untuk menyambut tamu-tamu terhormat. Tarian ini memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya pada jumlah penari dan busananya.
          Tari tepak atau tanggai dibawakan oleh 5 penari, sedang Gending Sriwijaya 9 penari. Busana penari tepak atau tanggai ini tidak selengkap busana dan asesori penari Gending. Tari Melati Karangan, merupakan perlambang keagungan kerajaan Sriwijaya mempersembahkan mealati dalam bentuk emas kepada kaisar Cina di abad ke VII. Tari Dana merupakan tarian rakyat yang biasa dibawakan para remaja. Tari digelarkan dalam acara gembira yang dibawakan 4-6orang penari atau secara massal oleh putra-putri. Tari Dana juga dikenal diseluruh Sumatera Selatan.

          Tari Gambu Madura

          Tari Gambu Madura  
          Tari Gambu Madura ada waktu perayaan Wuku Galungan di kerajaan Daha Prabu Jayakatwang mengadakan acara pasasraman di manguntur. Mengadakan adu kesaktian antar prajurit perang kerajaan untuk mecari bibit-bibit unggul sebagai senopati perang kelak. Para jago yang diandalkan oleh Raden Wijaya yakni Lembusora, Ranggalawe dan Nambi maju ke arena pasasraman untuk berhadapan dengan para prajurit Daha yakni Kebomundarang, Mahesarubuh dan Pangelet. Ternyata para prajuritnya Raden Wijaya lebih unggul karena waktu dalam pengasingan di Sumenep selalu melakukan latihan perang-perangan dengan memakai keris yang sampai saat ini diberi nama tari gambu. Di dalam kitab Pararaton tari tersebut bernama tari Silat Sudukan Dhuwung, yang di ciptakan oleh Adipati Arya Wiraraja (1269-1293) yang selalu diajarkan pada para pengiring Raden Wijaya kala ada di Sumenep.Tari Gambu Madura Tari Gambu MaduraBiasanya tari keris tersebut dilakukan kala Sang Adipati selesai melakukan pertemuan atau sidang para menteri di pendopo agung keraton Sumenep. Kemudia poleh dinasti Arya Wiraraja tari tersebut tidak pernah dilakukan hingga lama sekali. Dikala Mataram Islam diperintah Radèn Mas Rangsang Panembahan AGUNG Prabu Pandita Cakrakusuma Senapati ing Alaga Khalifatullah (Sultan Mataram 1613-1645), yang sangat peduli dan gemar pada kbudaya dan kesenian tradisional. Dan kala itu Sumenep diperintah oleh kerabat Sultan Agung yang bernama Adipati Tumenggung Anggdipa sekitar tahun 1630, tari tersebut dihidupkan kembali. Dengan demikian tari tersebut diberi nama tari kambuh (kambuh dalam bahasa Jawa berarti hidup kembali) dan lama kemudian berubah aksen menjadi tari GAMBU. Para penari pada umumnya terdiri dari empat penari yang menggunakan pola posisi segi empat sebagai simbol keblat papat limo pancer, menggunakan properti tombak dan tameng berukuran kecil, tameng terbuat dari bahan memantulkan cahaya, dibagian struktur tari menjelang akhir terdapat adegan perang-perangan. Tehnik gerak tari sangat jarang mengangkat gerak kaki, tetapi lebih dominan pergeseran kaki yang melekat ketanah, hal ini mirip dengan gerakan latihan tenaga dalam yang dilakukan oleh seni beladiri tenaga dalam. Konon para penari gambu tempo dulu, adalah para penari yang mempunyai teknik pernafasan yang bagus. Pola-pola pengendalian pernafasan tersebut antara lain dilakukan dengan cara mengkolaborasikan energi yang ada pada tubuh manusia dengan energi yang ada di bumi (tanah). Pola lantai/komposisi tari juga menyiratkan simbol prapatan atau menari dengan tekanan arah hadap kearah empat keblat. Tata busana menggunakan celana setinggi lutut, baju lengan panjang dengan rompi, sembung (sampur), ikat kepala model Sumenep (Tadjul Arifien R). 

          Tari Tanggai

          Tari Tanggai

          Tari Tanggai
          Tari tepak atau tari tanggai yang biasa digelarkan untuk menyambut tamu-tamu terhormat. Tarian ini memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya pada jumlah penari dan busananya. Tari tepak atau tanggai dibawakan oleh 5 penari sedangkan tari Gending Sriwijaya 9 penari. Busana penari tepak atau tanggai ini tidak selengkap busana dan asesoris penari Gending.
          Kelenturan gerak dan lentiknya jemari penari menunjukan betapa tulusnya tuan rumah memberikan penghormatan kepada tamu. Perpaduan gerak gemulai penari dengan harmoni lagu pengiring yang berjudul enam bersaudara melambangkan keharmonisan hidup masyarakat Palembang.
          Tari Tanggai sering dipergunakan dalam acara pernikahan masyarakat Sumatera Selatan, acara-acara resmi organisasi dan pergelaran seni di sekolah-sekolah. Sanggar-sanggar seni di kota Palembang banyak yang menyediakan jasa pergelaran tarian tanggai ini, lengkap dengan kemewahan pakaian adat Sumatera Selatan.

          TARI COKEK BETAWI

          TARI COKEK BETAWI (Dulu dibina oleh para cukong peranakan Cina)

          cokek1.jpgDalam sejarah kesenian Betawi, Cokek merupakan salah satu hiburan unggulan. Selain luas penyebarannya juga dengan cepat banyak digemari masyarakat Betawi kota sampai warga Betawi pinggiran. Pada kurun waktu itu hampir tiap diselenggarakan pesta hiburan, baik perayaan perjamuan hajatan perkawinan hingga pesta pengantin sunat. Dan ragam acara yang bersifat pesta rakyat. Disanalah para penari Cokek mempertunjukan kepiawaiannya menari sambil menyanyi. Barangkali memang kurang afdol jika penari cokek sekadar menari. Karenanya dalam perkembangannya selain menari juga harus pintar olah vokal alias menyanyi dengan suara merdu diiringi alunan musik Gambang Kromong. Jadi temu antara lagu dan musik benar-benar tampil semarak alias ngejreng beeng.

          Sayang sekali dalam buku “Ikhtisar Kesenian Betawi” edisi Nopember 2003 terbitan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, yang ditulis oleh H. Rachmat Ruchiyat, Drs. Singgih Wibisono dan Drs. H. Rachmat Syamsudin, tidak menyebutkan sejak kapan jenis tarian Cokek itu muncul ke permukaan. Tidak disebutkan pula secara jelas siapa tokoh atau pelaku pertama yang memperkenalkan tarian egal-egol sembari menggoyang-goyangkan pinggulnya yang kenes. Tentulah ada kegenitan lain yang dimunculkan oleh para penari tersebut untuk menarik lawan jenisnya, Ditambah kerlingan mata sang penari yang indah memikat para tamu lelaki untuk ikutan ngibing berpasangan di panggung atau pelataran rumah warga. Orang Betawi menyebut Tari Ngibing Cokek. Selama ngibing mereka disodori minuman tuak agar bersemangat. Mirip dengan Tari Tayub dari Jawa Tengah.
          tari_cokek2.jpg
          Tamu terhormat
          Begitu indah dan familiarnya jenis tarian ini. Para penari wanita yang berdandan dan bersolek menor, wajahnya diolesi bedak dan bibir bergincu, ditambah aroma wewangin minyak cap ikan duyung. Pada tarian pembukaan para penari berjoget dalam posisi berjajar ke samping, mirip posisi jejer panggung kesenian Ketoprak Jawa. Mereka merentangkan tangan setinggi bahu, sambil melangkahkan gerak kaki maju-mundur diiringi lagu-lagu khas Gambang Kromong. Kemudian mereka mengajak menari kepada para tamu yang hadir dengan mengalungkan selendang. Penyerahan selendang biasanya diberikan kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila sang tamu bersedia menari maka mereka pun mulai menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Dalam beberapa lagu ada pasangan yang menari saling membelakangi. Kalau kebetulan tempatnya luas, ada beberapa penari berputar-putar membentuk lingkaran. Selesai menari, para tamu pengibing memberikan imbalan berupa uang kepada penari cokek yang melayani. Lumayan, dalam semalam tiap penari cokek bisa mengumpulkan uang yang cukup banyak jumlahnya. Bisa dibelanjakan barang-barang kebutuhan pribadi seperti pakaian, sepatu, sandal atau apa saja menurut kesenangan mereka.
          Fungsi ekonomi
          Dari sisi ini bisa ditafsirkan bahwa jenis tarian Cokek menyandang fungsi ekonomi. Para Wayang Cokek selain mendapat imbalan berupa uang dari penanggap juga mendapat tipdari para lelaki yang berhasil digaet ngibing bersama. Dulu boleh dibilang para seniwati Cokek mendapat penghasilan ajeg karena seringnya ditanggap. Beda dengan masa kini dimana jenis kesenian Cokek kurang mendapat pasaran. Di zaman teknologi modern, generasi baru Betawi di kota mau pun pinggiran merasa lebih senang menanggap musik Orgen tunggal yang menampilkan penyanyi dangdut berbusana seronok. Kemajuan dan pergeseran zaman memang sulit dicegah. Sekarang orang lebih suka memilih hiburan yang serba instan di depan layar televisi. Barangkali agar jenis kesenian Cokek tidak punah, hendaknya lembaga pemerintah daerah yang menangani jenis kesenian Betawi melakukan tindakan preventif pembinaan yang cukup gencar dan terus menerus.
          Barangkali bisa menjadi contoh soal, sejak dahulu kala atau mungkin hingga sekarang penari Cokek tampil santun mengenakan busana yang menutup seluruh badan. Biasanya penari cokek memakai baju kurung dan celana panjang serta selendang melingkar dililitkan dibagian pinggang. Kedua ujung selendang yang panjang menjulur ke bawah. Fungsi selendang selain untuk menari juga bisa untuk menggaet tamu laki-laki untuk menari bersama. Keindahan busana itu pun tampak gemerlap terbuat dari kain sutera atau saten berwarna ngejreng banget, merah menyala, hijau, kuning dan ungu, temaram mengkilap berkilauan jika tertimpa cahaya lampu patromaks
          Unsur hias pun terdapat di bagian kepala Wayang Cokek (sebutan bagi penari cokek). Dimaksud agar tampak lebih cantik dan indah jika kepala digoyang-goyangkan kekiri dan kekanan. Rambutnya tersisir rapi ke belakang. Ada lagi yang dikepang disanggulkan dengan tusuk konde jaran goyang seperti rias pengantin Jawa. Ditambah hiasan dari benang wol dikepang atau dirajut yang menurut istilah setempat disebut burung hong.
          Hidup enggan-mati ogah
          Dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, tari Cokek pada zaman dahulu dibina dan dikembangkan oleh tuan-tuan tanah Cina yang kaya rata. Jauh sebelum Perang Dunia ke II meletus tari Cokek dan musik Gambang Kromong dimiliki cukong-cukong golongan Cina peranakan. Bisa dilihat dari lagu yang iramanya mirip lagu dari negerinya konglomerat Liem Swi Liong. Cukong-cukong peranakan Cina itulah yang membiayai kehidupan para seniman penari Cokek dan Gambang Kromong. Bahkan ada pula yang menyediakan perumahan untuk tempat tinggal khusus mereka. Di zaman merdeka seperti sekarang ini, tidak ada lagi yang secara tetap menjamin kehidupan dan kesejahteraan mereka. Ibaratnya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Walau pun sejak kurun waktu belakangan ini telah berdiri kantor Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, namun cara pembinaannya masih belum maksimal. Sehingga kesenian Cokek sekarang sepertinya berada di ujung tanduk, hidup enggan mati pun ogah.
           

          Tari Rudat

          Tari Rudat


          Tari Rudat, Jejak Masuknya Islam di Lombok TimurTari Rudat adalah sebuah tari tradisional yang masih banyak terdapat di Pulau Lombok. Dibawakan oleh 13 penari yang berdandan mirip prajurit. Berbaju lengan panjang warna kuning, celana sebatas lutut warna biru, berkopiah panjang mirip Aladin warna merah yang dililit kain warna putih atau biasa disebut tarbus. Mereka dipimpin oleh seorang komandan yang mengenakan kopiah mirip mahkota, lengkap dengan pedang di tangan.
          Biasanya tarian ini dibawakan pada saat upacara khitanan, katam Al Quran, Maulid Nabi peringatan Isra Mi’raj, dan peringatan hari-hari besar Islam lainnya.
          Tari Rudat ditarikan sambil menyanyi dengan lagu yang melodi dan iramanya seperti lagu melayu. Syairnya ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Indonesia. Tari Rudat diiringi sejumlah alat musik rebana yang terdiri dari jidur, rebana, dap, mandolin dan biola. Gerak tarian rudat merupakan  gerak seni bela diri pencak silat yang menggambarkan sikap waspada dan siap siaga prajurit Islam tempo dulu.
          Itulah sebabnya, mereka banyak menggunakan gerakan tangan dan kaki. Kadang tangan diayun kiri kanan, kadang mirip gelombang, tapi di saat lain mereka melakukan gerakan memukul dan menendang.
          Sesungguhnya asal-usul kesenian rudat sampai saat ini masih belum begitu jelas. Sebagian berpendapat, bahwa kesenian rudat ini merupakan perkembangan dari zikir zaman dan burdah, yaitu zikir yang disertai gerakan pencak silat. Burdah adalah nyanyian yang diiringi seperangkat rebana ukuran besar.
          Pendapat lain mengatakan, konon tari ini berasal dari Turki yang masuk bersama penyebaran agama Islam di Indonesia pada abad XV. Itulah sebabnya, tarian ini kentara sekali warna Islamnya, terutama dalam lagu dan musiknya. Di Lombok Timur dapat kita jumpai dan saksikan hampir di semua Kecamatan.
          Menurut H Hassanul Basri (42), salah satu tokoh penggerak rudat di Labuhan Haji, pertunjukan rudat terdiri dari tiga bagian. Yakni,
          a. Pembukaan ucapan tabik (hormat/permisi), yang di antaranya berbunyi:
          Tabik tuan-tuan, tabik nona-nona, mulailah bermain di hadapan tuan-tuan melihat keramaian...
          b. Bersalawat (puji-pujian kepada nabi), petikannya:
          E...Allah hibismillah
          Loh... Allah ya Allah
          Ya... Allah hu...
          c. Penutup (permintaan maaf kalau ada salah laku dan ucap selama menari).
          Masih menurut Basri, rudat secara terminologi berasal dari kata raudah, yaitu taman nabi yang terletak di masjid Nabawi, Madinnah.
          Mami Satriah (40), tokoh rudat lainnya di Lombok Timur menambahkan, rudat itu merupakan gabungan antara burdah dan saman. Burdah, adalah syair yang diiringi rebana, sedang saman adalah gerakan-gerakan yang diiringi zikir tanpa musik.
          Zikir saman, menurut Mami memiliki tahapan. Tahapan pertama, biasanya menceritakan masalah haji. Tahap kedua, melakukan gerakan mirip askar (tentara). Gerakan ketiga, ujngkapan kegembiraan. Dalam rudat, imbuh Mami, biasanya yang dipakai adalah tahapan kedua.

          Tari Gandrung


          Tari Gandrung
          1. Asal-usul
          Tari Gandrung merupakan sebuah tarian yang kini berkembang di tiga daerah, yaitu Banyuwangi, Bali, dan Lombok. Meskipun memiliki kemiripan, Tari Gandrung ketiga daerah ini memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki di daerah yang lain. Demikian pula dengan yang terjadi pada Tari Gandrung yang ada di Lombok. Meskipun Lombok dan Bali memiliki kemiripan budaya, tetapi Tari Gandrung di Lombok memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan Tari Gandrung yang ada di Bali. Inilah ciri khas dari Lombok yang tidak dimiliki di Pulau Bali. ”Lombok sering digambarkan oleh orang luar sebagai versi kecil Bali. Tetapi penduduk Lombok sendiri akan mengatakan bahwa, `Anda akan melihat Bali di Lombok, tetapi tidak akan melihat Lombok di Bali`.” (Sepora Nawadi, 1995:14). Tulisan berikut ini secara khusus akan berbicara tentang Tari Gandrung yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat beserta unsur simbolis yang tersaji dalam sebuah pertunjukkan Tari Gandrung.
          Gandrung dalam pemahaman masyarakat Lombok, khususnya masyarakat Sasak adalah nama sebuah pertunjukan yang dilakukan seorang penari wanita yang diiringi seperangkat gamelan (sabarungandalam istilah suku Sasak), puisi, dan nyanyian (dalam bahasa suku Sasak disebut lelakaq, sandaran) (R. Diyah Larasati, 1996:16). Pertunjukan Gandrung ini dilakukan dalam perayaan desa setelah masa panen padi. Gandrung menunjukkan suka cita dan harapan bersama masyarakat Sasak. Gandrung sekaligus juga merupakan ekspresi simbolis masyarakat Sasak di Lombok (R. Diyah Larasati, 1996:16).
          Ekspresi simbolis lewat Gandrung bagi masyarakat Sasak diwujudkan melalui dunia makna yang secara signifikan berada dalam sistem ideasional yang juga terefleksikan dalam interaksi sosial. Ditambah lagi adanya artefak yang melegitimasi keberadaan pertunjukan itu di tengah-tengah para penikmatnya (R. Diyah Larasati, 1996:17). Menurut R. Diyah Larasati, sistem ideasional yang dimaksud adalah konteks berfikir serta gagasan-gagasan para pelaku pertunjukan Gandrung. Dalam perspektif ini, Gandrung dipakai sebagai media untuk melepaskan harapan dan suka cita. Alam yang terefleksi melalui harapan akan melimpahnya panen padi, berusaha untuk dapat dikuasai dengan sebuah keharmonisasian melalui ungkapan suka cita dalam seni pertunjukan ini. Dalam pemikiran ini, alam dan manusia sebagai elemen kebudayaan mampu membentuk suatu harmoni (R. Diyah Larasati, 1996:17).
          Dilihat dari asal-usul, Tari Gandrung yang terdapat di Lombok kemungkinan bukan berasal dari kebudayaan asli Lombok (masyarakat Sasak). Hal ini bisa dilihat dari adanya Tari Gandrung yang juga terdapat di beberapa daerah lainnya, misalnya saja di Banyuwangi dan Bali. Beberapa budayawan atau peneliti akhirnya mencoba menelusuri dan menafsirkan asal-usul Tari Gandrung sehingga menjadi sebuah kebudayaan yang cukup sakral bagi masyarakat Sasak di Lombok.
          Seperti tertulis dalam Tari Gandrung Lombok (1993/1994), I Wayan Kartawirya menyatakan bahwa Tari Gandrung berasal dari Banyuwangi, kemudian menyebar lewat Bali dan akhirnya sampai di Lombok. Alasannya didasarkan pada Indische Staatsbald, Nomor: 123 tahun 1852 yang mengatur tentang Pemerintahan Hindia Belanda. Dalam Staatsblad tersebut disebutkan bahwa Pulau Lombok, termasuk ke dalam Keresidenan Bali dan Lombok dengan ibukota mula-mula Banyuwangi, kemudian pindah ke Singaraja di Bali. Asal-usul Tari Gandrung di Lombok juga terdapat dalam buku Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat Jilid I (1977:133). Di dalam buku tersebut dituliskan bahwa Tari Gandrung berasal dari Banyuwangi (Jawa Timur) kemudian berkembang di Lombok melalui Bali, pada masa Bali dan Lombok Barat (Karangasem) merupakan kesatuan daerah kultural. Dari pendapat ini jelas tergambar bahwa Tari Gandrung mulai masuk dan berkembang di Lombok sebelum Kerajaan Lombok (Karangasem) terakhir jatuh pada 1894. Pendapat berikutnya datang dari David Harnish dalam Thesisnya yang berjudulMusical Traditions of the Lombok Balinese (1985:105). Disebutkan dalam tulisan beliau bahwa bentuk Tari Gandrung di Lombok diperkirakan sebagai suatu adaptasi dari model Banyuwangi yang berkembang lewat Bali. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya di Lombok, Tari Gandrung ini menyerap pula bentuk-bentuk atau karakter lokal (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:14-15).
          Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Tari Gandrung yang ada di Lombokawalnya berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak kapan dan bagaimana sehingga Tari Gandrung bisa masuk ke Lombok, secara spesifik belum diketahui secara pasti. Hanya saja terdapat beberapa pendapat yang bisa dijadikan keterangan tentang kapan Tari Gandrung tersebut masuk ke Lombok. Misalnya saja pendapat dari I Wayan Kartawirya yang mendasarkan pendapatnya dari Indische Staatsbald, Nomor: 123 tahun 1852. Dari pendapat ini setidaknya terdapat sedikit keterangan bahwa Tari Gandrung telah masuk ke Lombok setelah tahun 1852. Ukuran waktu juga dapat dilihat dari pendapat yang tertulis dalam buku Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat Jilid I (1977). Pendapat yang mendasarkan tentang kesatuan kultural yang terjadi antara Bali dan Lombok Barat (Karangasem), menyisakan sedikit keterangan bahwa peristiwa kesatuan kultural tersebut terjadi sebelum Kerajaan Lombok (Karangasem) terakhir jatuh pada 1894. Agak berbeda dengan dua pendapat di atas, I Wayan Kartawirya berpendapat bahwa Tari Gandrung mulai masuk ke Lombok seiring dengan diangkatnya I Gusti Putu Geria sebagai Pepatih untuk mengepalai orang-orang suku Bali di Lombok sebagai pengganti kedudukan raja Lombok (Raja Agung Ngurah) yang ditaklukan oleh Belanda pada 18 November 1894 (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:13). Pada waktu I Gusti Putu Geria ini memerintah, beliau sempat mendatangkan rombongan kesenian dari Bali Utara (Singaraja) ke Mataram. Di antara rombongan kesenian tersebut, salah satunya adalah Tari Gandrung. I Wayan Kartawirya tidak menyebutkan secara pasti kapan peristiwa itu terjadi. Beliau hanya memperkirakan bahwa kejadian itu berlangsung antara 1907-1910. Menurut beliau, sejak I Gusti Putu Geria mengundang rombongan kesenian dari Bali Utara ini, maka mulai berdatanganlah berbagai jenis tari lainnya dari Bali Utara ke Lombok (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:13-14). Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemungkinan, Tari Gandrung mulai masuk ke Lombok setelah tahun 1852 sampai 1910. Setelah tahun 1910 Tari Gandrung telah berkembang di Lombok. Jadi kemungkinan terdapat interval 58 tahun proses masuknya Tari Gandrung ke Lombok.
          2. Penyebaran dan Perkembangan Tari Gandrung di Lombok
          Penyebaran dan perkembangan Tari Gandrung dipengaruhi pula oleh akulturasi budaya, khususnya antara kebudayaan Bali dan Lombok. Faktor yang memungkinkan terjadinya akulturasi antara lain karena semakin terbukanya sistem kekerabatan masyarakat Sasak dalam menerima anggota keluarga dari etnis lain dan semakin banyaknya terjadi mobilitas penduduk (R. Diyah Larasati, 1996:15). Faktor ini bertambah dengan adanya hubungan yang erat antara penduduk Lombok, khususnya masyarakat Sasak dengan penduduk di Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan. Dalam praktek keseharian, orang-orang yang tinggal di Lombok Barat mempunyai hubungan kekeluargaan yang erat dengan orang-orang yang bermukim di Bali, khususnya Bali bagian Timur. Kekeluargaan inilah yang kini dikenal dengan istilah “sidikara” (Ahmad Amin et.al., 1977/1978:22). Melalui ikatan kekeluargaan yang erat inilah, maka tidak jarang beberapa unsur kebudayaan turut serta terbawa, misalnya dalam bentuk bahasa, kesenian, dan kerajinan.
          Dari sini dapat dilihat bahwa metode penyebaran Tari Gandrung dimungkinkan terjadi karena adanya ikatan kekeluargaan yang kuat antara masyarakat Sasak dan Bali. Ikatan kekeluargaan ini yang kemudian memungkinkan terjadinya proses akulturasi. Jika dilihat dari asal-usul masuknya Tari Gandrung ke Lombok, maka hanya pendapat dari I Wayan Kartawirya yang secara langsung menunjukkan tentang siapa orang yang berjasa di balik terjadinya akulturasi sehingga membawa kebudayaan Tari Gandrung ke Lombok. Dalam perspektif ini orang yang berjasa untuk memperkenalkan Tari Gandrung ke Lombok adalah I Putu Geria sewaktu beliau menjabat sebagai Pepatih di Mataram (Lombok). Bagai gayung bersambut, inisiatif dari I Putu Geria mendapat dukungan dari seorang kaya raya di Cakranegara, Mataram, bernama I Gde Ketur (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:14).
          I Gde Ketur merupakan seorang hartawan yang sangat menyukai Tari Gandrung. Kesenangan beliau diwujudkan dengan mendukung perkembangan Tari Gandrung di Lombok dengan menyediakan gamelan dan rumahnya sebagai tempat latihan bagi para penari Gandrung. I Gde Ketur ini pula yang kemudian mengubah tradisi Tari Gandrung yang semula dimainkan oleh penari pria, kemudian diubah menjadi dimainkan oleh penari wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16). Pada awalnya proses pengubahan ini mengalami sejumlah kendala. Salah satunya adalah sulitnya mencari penari wanita yang berasal dari Bali. Kesulitan ini kemudian berhasil diatasi dengan cara menggantikan penari Gandrung yang berasal dari Bali dengan menjadikan seorang wanita dari suku Sasak bernama Tinggen untuk menjadi penari Gandrung wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16). Mulai dari sinilah terjadi perubahan ciri Tari Gandrung dibandingkan dengan daerah asalnya, baik Banyuwangi maupun Bali. Perubahan tersebut meliputi penari, yaitu pergantian antara penari pria yang digantikan dengan wanita. Kedua, penari tidak lagi berasal dari Bali melainkan dari suku Sasak. Perubahan ini menimbulkan ciri khas tersendiri dari Tari Gandrung Lombok yang mulai mendapat pengaruh dari masyarakat Sasak.
          Di Lombok sendiri penyebaran Tari Gandrung tercatat di beberapa tempat, seperti di Suweta, Bertais, Batuaya, Narmada, kemudian ke arah Lombok bagian Timur seperti Sukadana, Kilang, Suradadi, Kutaraja, Lendang Nangka, Sukarara, sebagian Mantang, Rarang, dan sebagian Sakra (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16-21). Seperti ditulis dalam buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994), lewat penyebaran ini kemudian timbul organisasi-organisasi dan berbagai tokoh kebudayaan tari yang berusaha melestarikan eksistensi Tari Gandrung di Lombok. Organisasi-organisasi dan para tokoh tersebut misalnya Organisasi “Panti Karya Tari” pada 1963 di Batuaya yang dipimpin oleh I Dewa Kompyang dengan penari utama seorang wanita Bali bernama Ni Tengah Tengkuk. Organisasi ini kemudian bersulih nama menjadi “Sad Guna Gita” pada 1971; Amaq Banun seorang penari pria yang bernama asli Ratnadi yang aktif di Dasan Tereng, Kecamatan Narada (meninggal pada 1957); Inaq Bilin, seorang penari wanita dari suku Sasak yang merupakan keponakan dari Amaq Banun; Sahari, ketua dari Organisasi Gandrung “Sekar Wangi” di Dasan Tereng, Kecamatan Narada; Organisasi “Dana Bakti” di Dasan Palung, Desa Suwangi, Kecamatan Sakra, yang dipimpin oleh Amaq Sinalam dengan penari Gandrung wanita bernama Inaq Semi, istri dari Amaq Sinalam; Dane Rahil, seorang tokoh Tari Gandrung yang berasal dari Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16-22). Dari penyebaran Tari Gandrung ini pula akhirnya dikenal berbagai “aliran” dalam Tari Gandrung, seperti Gandrung Bertais dari daerah Bertais; kemudian di Dasan Tereng yang masih mempertahankan keaslian tradisi Tari Gandrung dengan bagian yang dinamakan Tangis(semacam intro sebelum Bapangan, dibawakan sambil menari dan menyanyi), dan Rereng Manis(merupakan bagian dari Bapangan yang dibawakan dengan cara duduk sambil menari dan menyanyi (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16-18). Bapangan adalah sebuah babak dalam Tari Gandrung di mana penari memperkenalkan diri kepada para penonton (http://64.203.71.11/kompas-cetak/).
          Penyebaran dan perkembangan Tari Gandrung di Lombok kini dinilai telah mulai mengalami pergeseran. Maraknya dunia hiburan di abad ke-20 menjadikan terjadinya pergeseran makna yang mulai menepiskan esensi sebuah ritus (R. Diyah Larasati, 1996:21). Dari sinilah mulai bermunculan kelompok-kelompok di luar dunia tradisi yang mengambil Tari Gandrung sebagai indentitasnya. Kini Tari Gandrung tidak semata-mata dilakukan sebagai ucapan syukur maupun harapan yang diwujudkan dengan beragam makna simbolisasi. Tari Gandrung telah mengalami beberapa pergeseran bentuk, seperti tidak harus dimainkan setelah panen saja, tetapi dimainkan pula dalam berbagai acara. Penari wanita sebagai sentral Tari Gandrung menjadi penarik kaum Adam untuk maju ke gelanggang danmengibing bersama. Acara kesakralan kini telah bergeser menjadi sekadar hiburan. Di sinilah mulai tergambar pendapat Bakker, “Perkembangan perikehidupan seni menunjukkan aspek lain lagi pada pergulatan antara tradisi dan inovasi” (Bakker, J.W.M., 1979:23).
          Inovasi terkadang memang meminggirkan tradisi. Berbagai tuntutan dan kepentingan yang harus terpenuhi, tampaknya menjadikan sisi tradisi menempati urutan nomor dua. Hiburan, kebutuhan dapur bagi para penari, dan dalih pelestarian kebudayaan, ternyata menjadikan Tari Gandrung yang kini banyak ditampilkan di Lombok mulai keluar dari pakem yang telah digariskan. Inovasi memang membawa konsekuensi, dalam hal ini terjadi pergeseran tradisi.           
          3. Peralatan dan Pemain
          A. Peralatan
          Peralatan dalam Tari Gandrung disebut dengan gamelan. Ragam gamelan yang dimainkan dalam Tari Gandrung ternyata telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Pada saat sekarang Tari Gandrung dimainkan dengan Gamelan Oncer. Sebelum dimainkan dengan Gamelan Oncer, pertunjukan Tari Gandrung diiringi dengan Gamelan Tawaq-Tawaq (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:20). Harnis, David (1998:130-131) dalam Tari Gandrung Lombok (1993/1994), membuat semacam periodisasi hasil penelitian tentang gamelan di Lombok, yaitu:
          1. Periode I, awal tahun 1700
          Gamelan yang termasuk ke dalam periode ini adalah Gamelan Oncer, Gamelan Tawaq-tawaq, Gamelan Barong Tengkong, Gamelan Grantang, dan ensambel Gamelan Wayang .
          2. Periode II yang disebut dengan Periode atau Masa Pertengahan antara tahun 1700-1900
          Gamelan yang termasuk ke dalam periode ini adalah Gamelan Pereret, Gamelan Kamput, Gamelan Rebana, dan Gamelan Klentang.
          3. Periode III yang disebut Periode atau Masa Modern, yaitu sesudah tahun 1900
          Gamelan yang termasuk ke dalam periode ini adalah Kecimol, Silokan, Gamelan Gong Sasak, dan Burdah (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:20-21).   

          Dari kiri ke kanan: Barungan Gamelan Gandrung Desa Dasan Tereng, Barungan Gamelan Gandrung Desa Lenek (memakai cungklik dan suling belo), dan Barungan Gamelan Gandrung Desa Suwangi
          Pada dasarnya dalam mengiringi Tari Gandrung, ensambel tradisional yang utama adalah Gamelan Oncer. Akan tetapi pada perkembangannya terjadi perubahan ensambel pengiring Tari Gandrung. Sebagaimana ditulis dalam buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994),
          “Peralatan/ensambel gamelan yang dipakai sekarang adalah pemugih, saron, kantil, calung, jegogan, suling biasa, pereret, dan rincik. Sedang peralatan yang dipakai dulu adalah ensambel gamelan yang terdiri dari, cungklik (dengan dilengkapi alat musik gesek yang disebut redep atau rebab), gender/calung, gong, gendang, petuk, rincik, pereret, suling biasa,dan ketipuk” (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994: 21).
          Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa perubahan gamelan pengiring dalam Tari Gandrung tempo dulu dan sekarang terdapat pada penambahan saron, kantil, calung, dan jegogan.      
          B. Pemain
          Pada awal dipentaskan, Tari Gandrung dimainkan oleh penari pria. Tetapi pada perkembangan kemudian, Tari Gandrung dimainkan oleh penari wanita. Perubahan yang terjadi sehubungan penggantian peran penari pria dengan penari wanita dalam Tari Gandrung di Lombok, tidak bisa dipisahkan dari peran I Gde Ketur. Beliau merupakan pemerhati Tari Gandrung di Lombok yang berperan besar dalam mengubah tradisi Tari Gandrung yang semula dimainkan oleh penari pria, kemudian diubah menjadi dimainkan oleh penari wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16).
          Menurut buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994), peran penari wanita sebagai pengganti penari pria di Banyuwangi telah dikenal pada 1895. Di Lombok sendiri, penggantian peran penari pria dengan wanita bisa dilihat ketika I Gde Ketur mulai mengubah tradisi tersebut. Minimal ada dua pendapat tentang perubahan peran penari ini. Pertama, perubahan ini terjadi kira-kira pada 1935. Alasan pengambilan tahun 1935 berdasarkan penuturan seorang masyarakat dari Suku Sasak bernama Mamiq Rumita. Beliau menyatakan bahwa ketika beliau berumur 10 tahun, Tari Gandrung di Lombok sudah ditarikan oleh wanita. Mamiq Rumita merupakan seseorang dari suku Sasak yang lahir pada 1925. Ketika beliau berumur 10 tahun, beliau telah melihat bahwa Tari Gandrung telah ditarikan oleh penari wanita. Dari penuturan ini, dapat diartikan bahwa  kisaran waktu penggantian penari pria ke wanita dalam Tari Gandrung diperkirakan terjadi pada 1935. Kedua, dilihat dari mulai tampilnya Inaq Bilin sejak 1920 atau 1922. Inaq Bilin merupakan penari Gandrung wanita yang merupakan keponakan dari Amaq Banun, seorang penari Gandrung pria. Dilihat dari angka tahun ini, kemungkinan perubahan penari pria ke penari wanita terjadi antara 1920-1935. Sehingga di Lombok sendiri membutuhkan waktu sekitar 25-40 tahun untuk membuat sebuah perubahan dari penari Gandrung pria ke penari wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:17 dan 22-23).
          C. Pertunjukan Tari Gandrung
          Pertunjukan Tari gandrung dilakukan oleh satu atau dua orang wanita. Biasanya digelar pada malam hari yang bertepatan dengan pasca panen padi (R. Diyah Larasati, 1996:16). Dalam setiap pertunjukan, para penari Gandrung memakai busana atau pakaian khas penari. Busana penari Gandrung terdiri dari beberapa unsur, yaitu:
          1. Gelung/Gegelung, yaitu hiasan penutup kepala yang seluruh permukaan luar bagian belakang dihiasi dengan bunga Kamboja yang diikatkan/disangkutkan pada permukaan gelung.
          2. Gempolan, hiasan di atas telinga yang terbuat dari rangkaian bunga Kamboja.
          3. Bapang, yaitu hiasan yang melingkar di sekitar leher, yang menutupi pundak, dada bagian atas dan punggung bagian atas
          4. Stagen dan Seret, Stagen merupakan kain yang melilit dipinggang yang berfungsi sebagai sabuk (ikat pinggang). Sedang Seret adalah tali kecil yang terbuat dari kain yang dililitkan di Stagenputih.  
          5. Elaq-elaq, yaitu lidah-lidah yang tergantung pada Bapang sampai ke perut, terbuat dari kain.
          6. Gonjer/Gegonjer, yaitu sejenis selendang warni-warni sebagai hiasan pinggang.
          7. Ampok-ampok depan, yaitu hiasan pinggul bagian depan
          8. Ampok-ampok belakang,  yaitu hiasan pinggul bagian belakang.
          9. Kain panjang
          10. Properti yang dibawa seorang penari Gandrung adalah kipas (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:48-49).
          Busana penari Gandrung
          Keterangan:
          1. Gegelung
          2. Gempolan
          3. Bapang
          4. Stagen dan Seret
          5. Elaq-elaq
          6. Gonjer/Gegonjer
          Seperti ditulis dalam Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan (1996), R. Diyah Larasati dalam artikel berjudul “Gandrung di Lombok Barat: Ekspresi Simbolis Komunitas Sasak”, menjelaskan bahwa sebelum digelar pertunjukan Tari Gandrung, terlebih dahulu diadakan prosesi andang-andang, yaitu berupa sesaji yang terdiri dari beras, uang logam (244 keping), benang satu ikat, sirih pinang, serta sebutir kepala. Sesaji ini digunakan sebagai awalan sebelum pertunjukan Tari Gandrung. Prosesi ini disebut dengan pemeras pati. Upacara pemeras pati ditujukan untuk menghilangkan gangguan selama pertunjukan. Pemeras patidilakukan dengan urutan sebagai berikut :
          1. Seorang pemimpin pertunjukan bersama para pemain instrumen, tetua desa, pemilik tempat (halaman rumah-rumah Sasak) membakar kemenyan.
          2. Asap kemenyan didekatkan dengan beras dan peralatan lain (mengasapi).
          3. Mengusap mata gong dengan benang sebanyak tiga kali.
          4. Memukul gong tiga kali dengan selang pukul selama satu kali bernafas.
          5. Menebarkan beras bersama uang logam ke seluruh peralatan.
          6. Memukul instrumen dengan bebas bersamaan dengan jatuhnya uang dan beras (lindur) (R. Diyah Larasati, 1996:20-21).
          Setelah prosesi pemeras pati selesai dilakukan, maka pertunjukan Tari Gandrung siap untuk dimulai. Pertama kali dimainkan Gending Kabor, kemudian disusul dengan Gending Bapangan (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:31). Seperi dikutip dalam artikel Khaerul Anwar yang berjudul “Semangat Seni Tradisi Bangkit di Lombok”, Tari Gandrung terdiri dari tiga babak, yaitu babak Bapangan (memperkenalkan diri), kemudian menari sambil menyanyi (besandaran atau bedede). Selajutnya adalah babak Gandrungan,yaitu mengibas-ngibas kipas dan menari mengitari arena. Pada saat tertentu, penari menyentuhkan kipas (tepekan)pada penonton yang serta-merta maju ke arena untuk menari (mengibing) atau disebut babak Parianom. Penonton diberikan waktu untuk mengibing sekitar 10 menit, dan sebelum meninggalkan arena ia harus menyerahkan uang (http://melayuonline.com/).
          Pengibingan
          Lalu Ma`as dalam makalahnya berjudul “Ngibing Bersama Gandrung dan Jangger (1977:12) menyatakan bahwa uang yang ditinggalkan para pengibing sebelum meninggalkan arena tidak dimaknai sebagai upah bagi para wanita penari Gandrung. Uang tersebut biasa disebut dengansalaran. Esensi salaran dalam pertunjukan Gandrung di Lombok adalah ucapan terimakasih bahwa sang pengibing diberikan kesempatan untuk turut bersuka cita dengan menari bersama sang Gandrung. Kesempatan ini bagi masyarakat Sasak dinilai sebagai sebuah penghargaan (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:33).
          Masih dalam makalah Lalu Ma`as yang berjudul “Ngibing Bersama Gandrung dan Jangger (1977:13), disebutkan pula aturan yang harus dipatuhi bagi para pengibing ketika menari bersama sang Gandrung (penari wanita). Pengibing harus bertindak sopan dan mematuhi norma kesusilaan yang berlaku di dalam masyarakat Sasak. Pengibing yang mencoba berbuat tidak senonoh atau asusila terhadap penari Gandrung, maka akan mendapatkan hukuman yang dilaksanakan sendiri oleh sang penari Gandrung. Jalannya hukuman tersebut adalah:
          “Untuk sang Gandrung dilengkapi dengan alat penghukum khusus, yaitu rambun/tangkai sesumping yang terbuat dari bambu yang tajam/runcing, mencuat ke arah belakang kepala atas dari pangkal telinga di kiri dan kanan gelung. Kalau ada pengibing yang bertindak asusila, maka dengan sekali memutar badan disertai dengan lenggokan kepala saja sudah cukup membuat muka pengibing luka-luka, yang dengan sendirinya memaksanya untuk mundur teratur, membawa luka serta malu yang sangat” (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:33).

          Denah tempat menari
          Keterangan:
          • 1. Petak tempat peralatan (gamelan)
          • 2. dan 3. Petak tempat penari Gandrung
          • 3. Petak tempat pengibing
          • L. Lampu
          Pengibing tidak boleh melewati garis batas GLH. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut akan dihukum:
          1. Berupa teguran
          2. Peringatan keras
          3. Pengusiran dari tempat arena/pertunjukan (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:32).
          Secara spesifik, dijelaskan dalam buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994), bahwa dari ketiga babak di atas (Bapangan, Gandrungan, dan Parianom), terdapat juga detail lain dalam sebuah pertunjukan Tari Gandung. Adegan pertama adalah Tangis, kemudian disusul dengan adegan Bapangan. Dalam adeganBapangan ini terdapat beberapa gerakan seperti: Gerah, Gabor Seriak, Nyatang, Bedeser, Ngindang, Jelek Gendang, Nyede Duduk, Surut Udang, Ngembat, Tindak Baring kiri Ngeluhluh kiri-kanan, Betetenggaq, Belemesan, dan Ngecok. Adegan ketiga adalah Rereng Manis, kemudian adegan keempat adalahPenepekan. Dalam adegan Penepekan ini terdapat sebuah gerak yang disebut Keleangnginte. Terakhir adalah adegan Pengibingan dengan gerakan antara lain: Narung (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:83-92).

          Nyede
          4. Nilai Budaya
          Tari Gandrung bagi masyarakat Sasak memuat berbagai makna, seperti ungkapan syukur, suka cita, harapan, sampai dengan kesakralan yang tercermin lewat berbagai sesaji sebelum pertunjukan Tari Gandrung ditampilkan. Lewat Tari Gandrung inilah, simbolisasi tentang harmonisasi antara alam dan manusia dicoba utuk digambarkan oleh para penarinya. Ajaran untuk memanusiakan alam memang akrab bagi masyarakat Sasak di Lombok. Ajaran untuk memanusiakan alam inilah yang mengiringi kehidupan sehingga membentuk kebudayaan Sasak. Mengutip pendapat Bakker, “Kebudayaan adalah alam kodrat sendiri sebagai milik manusia, sebagai ruang lingkup realisasi diri. Dalam kebudayaan manusia memanusiakan alam, termasuk dirinya sendiri” (Bakker, J.W.M., 1979:4).
          Simbolisasi yang sangat erat dalam Tari Gandrung dapat dipahami pula sebagai sebuah nilai kebudayaan. Karena dengan melestarikan nilai simbolis ini, berarti pula telah melestarikan tradisi yang merupakan bagian penting dari sebuah kebudayaan. Beragam nilai simbolis yang berada dalam Tari Gandrung antara lain: penari utama dan pengibing. Sebagai sebuah dunia simbolis tentang kesuburan (dimainkan pasca panen padi), pelaku utama dalam Tari Gandrung adalah wanita yang sekaligus merupakan jalinan penyusun makna yang secara inderawi hanya bisa tertangkap visualnya, tetapi dari sisi ini pelaku yang dalam hal ini penari Gandrung adalah makna itu sendiri yang disimbolkan dengan penari (R. Diyah Larasati, 1996:17). Wanita dalam hal ini lebih dimaknai sebagai media pengucapan syukur atas panen padi kepada dewi kesuburan. Wanita dalam konteks ini pula berperan sebagai tokoh sentral dalam sebuah tarian yang memegang peran penting dan sangat dihormati. Kehormatan untuk bisa mengibing dengan penari Gandrung merupakan penghargaan bagi masyarakat Sasak. Demikian pula dengan beberapa aturan yang harus dipatuhi dalam prosesi mengibing. Hal ini secara tersirat menggambarkan bahwa di lingkungan masyarakat Sasak, sosok wanita mendapat kedudukan yang tidak rendah. Kaum wanita dihormati karena memiliki nilai tersendiri yang tidak dimiliki oleh kaum pria.
          Makna simbolis lainnya tergambar dalam penepekan, yaitu gerak menyentuhkan kipas antara penari Gandrung kepada salah satu penonton (R. Diyah Larasati, 1996:20). Makna simbolis yang tersirat dalam bagian ini adalah penyatuan gerak dua dunia, yaitu penari dan penonton dalam satu adegan dan arena yang dikenal dengan adegan pengibingan (R. Diyah Larasati, 1996:20). Dari adeganpengibingan ini pula terkandung makna susila yang diwujudkan dengan rambun/tangkai sesumpingyang terbuat dari bambu yang tajam/runcing. Fungsi dari rambun ini sebagai pengendali apabilapengibing melakukan tindakan asusila. Di sini tergambar adanya norma kebebasan tetapi tetap menjaga kewaspadaan dan saling menghormati antara pelaku pertunjukan. Hal ini merupakan refleksi sistem sosial (kebudayaan) yang melingkupi komunitas Sasak (R. Diyah Larasati, 1996:20).
          Selain makna simbolis di atas, dalam tradisi masyarakat Sasak, seorang penari Gandrung merupakan seorang perempuan yang masih gadis atau remaja. Seperti ditulis dalam artikel R. Diyah Larasati, “Gandrung di Lombok Barat: Ekspresi Simbolis Komunitas Sasak”, penari yang dipilih biasanya masih memiliki hubungan darah dengan penari sebelumnya. Para penari ini terus bergantian melakukan proses transmisi (pewarisan) kepada para gadis yang lebih muda. Biasanya pergantian ini terjadi karena seorang penari menikah atau pergi ke luar desa. Apabila sampai pada suatu saat tidak ada seorang gadispun yang bisa menggantikan kedudukan penari sebelumnya, maka penari tersebut akan memilih melajang (tidak kawin) dan memenuhi tugas simbolis masyarakat pendukungnya (R. Diyah Larasati, 1996 :22-23).  Di sinilah pengorbanan menjadi sebuah konsekuensi bagi para wanita penari Gandrung. Pengorban yang harus dilakukan demi melestarikan nilai-nilai simbolisasi budaya yang terdapat pada masyarakat Sasak di Lombok.

           
          Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes